Kapal induk bertenaga nuklir milik Angkatan Laut Amerika Serikat, USS Nimitz, dilaporkan memasuki kawasan Laut Karibia bersama kelompok tempurnya di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Kuba. Kehadiran armada tempur raksasa itu langsung memicu spekulasi internasional mengenai kemungkinan tekanan militer Washington terhadap pemerintahan Kuba.
Pengerahan USS Nimitz terjadi di saat hubungan kedua negara kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump meningkatkan retorika keras terhadap pemerintah komunis Kuba. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran baru terkait potensi eskalasi geopolitik di kawasan Karibia.
Kelompok tempur USS Nimitz membawa berbagai alutsista modern, termasuk jet tempur F/A-18E Super Hornet, pesawat peperangan elektronik EA-18G Growler, hingga pesawat logistik C-2A Greyhound. Armada tersebut juga dikawal kapal perusak USS Gridley dan kapal tanker pengisian bahan bakar USNS Patuxent.
Komando Selatan Amerika Serikat atau United States Southern Command (SOUTHCOM) mengonfirmasi pengerahan armada tersebut melalui pernyataan resmi di media sosial. Mereka menyebut USS Nimitz merupakan salah satu kapal induk paling berpengalaman yang telah menjalankan berbagai operasi militer di banyak kawasan dunia.
“Selamat datang di Karibia, Gugus Tempur Kapal Induk Nimitz,” tulis SOUTHCOM dalam unggahan resminya.
Masuknya USS Nimitz ke Karibia dinilai bukan sekadar operasi rutin militer. Banyak pengamat melihat langkah itu sebagai sinyal politik dan militer dari Washington kepada Havana di tengah memburuknya hubungan bilateral kedua negara.
Ketegangan meningkat setelah Departemen Kehakiman AS mendakwa mantan Presiden Kuba Raul Castro terkait insiden jatuhnya dua pesawat sipil pada tahun 1996 yang menewaskan empat orang. Kasus lama tersebut kembali diangkat di tengah perubahan pendekatan pemerintahan Trump terhadap Kuba.
Donald Trump sendiri menyebut isu Kuba sebagai “momen besar” bagi komunitas Kuba-Amerika dan kelompok yang menginginkan perubahan politik di negara tersebut. Pernyataan itu memperkuat kesan bahwa Washington tengah meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Kuba.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio turut memperkeruh situasi setelah mendukung langkah blokade bahan bakar terhadap Kuba. Rubio juga menuding pemerintah komunis Kuba sebagai penyebab utama krisis listrik berkepanjangan yang terjadi di negara tersebut.
Situasi semakin sensitif setelah Direktur Central Intelligence Agency (CIA) John Ratcliffe dilaporkan bertemu dengan pejabat Kuba. Dalam pertemuan itu, Ratcliffe disebut memperingatkan bahwa peluang dialog antara kedua negara tidak akan terbuka selamanya.
Hingga kini belum ada tanda-tanda pengerahan militer akan berkembang menjadi operasi langsung terhadap Kuba. Namun kehadiran USS Nimitz di Laut Karibia tetap dipandang sebagai pesan strategis kuat dari Amerika Serikat di tengah meningkatnya tekanan diplomatik dan politik terhadap Havana.