Waduh! Perumahan Villa Kencana Cikarang yang Diresmikan Presiden Jokowi Tampak Tak Terurus
terkenal.co.id – Belum lama ini Perumahan Villa Kencana Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat ramai mencuat dalam pemberitaan diberbagai platform media massa.Usut punya usut, Perumahan tersebut tampak tak terurus, kosong, dan tak berpenghuni. Tak hanya itu, Pintu Rumah KPR Bersubsidi bertuliskan Buy Back dan tanda silang yang kini pun terbengkalai.
Rumah KPR Bersubsidi yang kosong di Villa Kencana Cikarang kini telah banyak fasilitas yang rusak. Atap rumah dan bagian fasad ditumbuhi tanaman liar. Jalan rusak dan kayu jendela rumah hilang. Rumah yang kosong ini merupakan program subsidi rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).
Setidaknya fasilitas pendukung seperti jaringan listrik dan air bersih serta akses transportasi sudah melayani penghuni dengan baik. Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2016 lalu mencanangkan rumah KOR bersubsidi. Kemudian pada tahun 2017 perumahan ini diresmikan dengan jumlah rumah sebanyak 8.749 unit. Untuk memiliki rumah ini cukup dengan uang muka atau down payment (DP) sekitar Rp 1,12 juta dan cicilan per bulan sekitar Rp 750-900 ribu.
Sedangkan fasilitas KPR pembeli hanya mengeluarkan DP sebesar 1% dan bunga cicilan 5% fixed (tetap) hingga 20 tahun. Rumah subsidi ini bebas dari banjir sedangkan akses menuju Stasiun Cikarang terbilang tidak terlalu jauh dapat ditempuh dengan transportasi umum yakni Angkutan Kota (Angkot) selama kurang lebih 30 menit.
Rumah Subsidi ini rata-rata dimiliki oleh masyarakat mampu yang tak kunjung menempati rumah. Tetapi mereka membeli untuk investasi masa mendatang namun kini malah terbengkalai. Akankah rumah subsidi ini akan kembali bangkit memenuhi kebutuhan rumah tapak Masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di era mendatang.
Dilansir dari CNBC Indonesia, Ketua RT 04/13 Villa Kencana Cikarang Fulan Heru Susanto mengungkapkan fakta di balik banyaknya rumah yang tak ditempati hingga terbengkalai di perumahan tersebut. Meski jelas-jelas pemerintahan Jokowi membangunnya sebagai perumahan subsidi atau khusus bagi masyarakat berpenghasilan rendah, justru banyak yang membeli bukan dari kelompok MBR.
“Sebenarnya rumah ini bagus untuk program Presiden, dalam arti rumah untuk kalangan menengah ke bawah. Baik karyawan bisa maupun para usaha pedagang kecil. Cuma, sepengalaman saya, menurut saya kurang tepat sasaran,” katanya yang dikutip terkenal.co.id diunggah CNBC Indonesia, Selasa (11/6/2024) lalu.
“Karena yang isi bukan orang menengah ke bawah, tapi menengah ke atas. Yang seharusnya tidak boleh memiliki atau punya rumah di sini, tidak berhak untuk tinggal di sini atau mungkin tidak berhak di sini kok bisa boleh, gitu,” papar Fulan.
Rumah-rumah yang dibeli tersebut, ujarnya, sebagian kemudian dijadikan sebagai investasi pemilik. Faktor lain, lanjut dia, tidak ada jaminan keamanan lingkungan.
“Kenyataannya di sini kalau mau renovasi jaman dulu ya kalau sekarang mungkin sudah kondusif. Tapi dulu ya ribet banyak korlap-korlap (kordinator lapangan) yang tidak bertanggung jawab,” sebutnya.
“Ada mandornya, biasanya yang punya wilayah. Dia membentuk sebuah perkumpulan membentuk organisasi berupa korlap yang legalitasnya itu memang diketahui oleh pihak desa dan Polres setempat. Tapi kan ada masa waktu berlakunya. 2018 harusnya korlap sudah tidak ada, tapi kenyataannya berbeda,” tukasnya.
Dia mengungkapkan, masyarakat harus melapor kepada korlap-korlap tersebut jika hendak melakukan renovasi rumah.
“Di saat warga mau membangun hal-hal yang berupa pengeboran atau septic tank, atau apa itu, ada sedikit tekanan intervensi. Bahkan bukan hanya sedikit tapi luar biasa. Mereka menuntut bilamana tidak dipekerjakan, yang punya rumah harus bayar,” ungkap Fulan.
“Waktu itu saya bersama warga bawa tukang dari kampung tapi orang asli pribumi sini, saya di sini memperjuangkan orang sini, tapi di saat penggalian saya didatengin dan sempat ada pemukulan sampai saya ada darah sedikit. Saya juga merasa negara kita ini kan negara hukum kalau memang ada kekerasan kenapa kita tidak cari keadilan. Kalau orang kecil kan jadi keadilan prosesnya rumit, memang sangat memakan waktu, saya di-BAP berkali-kali. Tapi Alhamdulillah dari Polsek Cikarang ditindak lanjuti, Alhamdulillah korlap tersebut, oknum tersebut tertangkap,” tuturnya.
Fulan mengaku, tetap bertahan menempati rumahnya karena keadaan.
“Karena nggak mungkin saya ambil rumah terus saya sewakan. Pasti saya tempatin bersama keluarga saya ini. Alhamdulillah saya merasa nyaman walaupun perjuangannya sangat berat,” kata Fulan.




