Dinkes DKI Pantau Kenaikan DBD
Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta meningkatkan pemantauan terhadap perkembangan kasus demam berdarah dengue (DBD) menyusul kenaikan jumlah penderita di Ibu Kota. Meski peningkatan tersebut dinilai masih mengikuti pola musiman, masyarakat diminta memperkuat pencegahan untuk menekan risiko penularan.
Kepala Dinkes DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa jumlah kasus DBD dapat berubah mengikuti kondisi iklim dan cuaca. Karena itu, pemerintah daerah terus memantau perkembangan kasus melalui sistem kewaspadaan dini dan respons.
“Kalau lonjakan kasus DBD sejauh ini masih sesuai dengan pola musiman. Jadi DBD itu memang akan naik turun sesuai dengan iklim, sesuai dengan cuaca, jadi ada polanya,” kata Ani di Balai Kota Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Menurut Ani, evaluasi dilakukan dengan membandingkan jumlah kasus setiap bulan dengan periode sebelumnya serta bulan yang sama pada tahun lalu. Perbandingan tersebut menjadi dasar untuk menilai apakah peningkatan masih terkendali atau membutuhkan langkah penanganan tambahan.
Jika situasi masih terkendali, Dinkes akan melanjutkan upaya pencegahan melalui pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dan peningkatan edukasi kepada masyarakat.
“Apabila semuanya masih dalam status terkendali, maka biasanya kami akan lakukan pencegahan seperti yang sudah dilakukan, antara lain dengan pemberantasan sarang nyamuk dan juga edukasi yang lebih masif kepada masyarakat,” jelasnya.
Jakarta Selatan Catat 1.314 Kasus
Data Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan mencatat sebanyak 1.314 kasus DBD hingga September 2026. Angka tersebut memiliki incidence rate (IR) sebesar 56,55.
Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Suku Dinas Kesehatan Jakarta Selatan, Fitria Ramdhita, membenarkan jumlah kasus tersebut saat dikonfirmasi di Jakarta, Senin (12/10/2026).
“Jumlah kasus DBD 2026 di Jakarta Selatan sampai September 2026 sebanyak 1.314 kasus dengan IR 56,55,” ujar Fitria.
Ia mengingatkan warga agar tidak mengabaikan PSN 3M Plus sebagai langkah pencegahan penularan DBD. Kegiatan tersebut perlu dilakukan secara rutin, serentak, dan berkelanjutan, baik di rumah maupun lingkungan sekitar.
Masyarakat dianjurkan melaksanakan PSN setidaknya satu kali dalam sepekan dengan melibatkan seluruh anggota keluarga serta warga di lingkungan tempat tinggal.
Dinkes Periksa Informasi Kematian Akibat DBD
Di tengah peningkatan kasus, Dinkes DKI Jakarta juga menelusuri informasi mengenai dugaan kematian akibat DBD di sejumlah wilayah. Salah satu laporan yang menjadi perhatian menyebutkan adanya lima kematian di Jakarta Timur hingga Agustus 2026.
Ani mengatakan, hingga Rabu (14/10/2026), pihaknya belum menemukan laporan kematian akibat DBD dalam data yang dimiliki Dinkes DKI Jakarta. Meski begitu, ia menyatakan akan memeriksa kembali sumber informasi tersebut.
“Tapi sampai dengan hari ini di data kami belum ada laporan tentang kasus DBD yang meninggal. Nanti saya akan cek lagi sumbernya dari mana,” kata Ani.
Dinkes memastikan pemantauan akan terus dilakukan untuk menentukan langkah pencegahan sesuai perkembangan situasi. Pemeriksaan terhadap informasi kematian juga diperlukan agar data yang disampaikan kepada masyarakat dapat dipastikan kebenarannya.
Untuk menekan risiko penyebaran DBD, warga diimbau menjalankan langkah 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, serta mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menampung air. Upaya tambahan juga perlu dilakukan untuk mencegah nyamuk berkembang biak.
Peningkatan kewaspadaan di tingkat keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dari pencegahan, terutama ketika jumlah kasus menunjukkan kenaikan. Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus berkoordinasi agar potensi penyebaran DBD dapat ditekan.




