Ulama Sunni Tewas Beruntun, Ketegangan Politik Iran Meningkat
Pembunuhan dua ulama Sunni dalam waktu kurang dari sepekan kembali menyoroti persoalan keamanan dan ketegangan politik di Iran. Dua serangan tersebut terjadi di wilayah yang selama ini dikenal memiliki dinamika konflik dengan kelompok bersenjata serta persoalan hubungan antara pemerintah pusat dan komunitas minoritas.
Kasus terbaru menimpa Molavi Yousef Gorgij, ulama Sunni Baluch yang ditembak orang tak dikenal di luar rumahnya di Zahedan, Provinsi Sistan-Baluchestan, Senin (14/9/2026) waktu setempat.
Gorgij bukan sekadar tokoh agama. Ia dikenal memiliki sikap pro-pemerintah dan disebut aktif menentang kelompok yang dianggap mengancam persatuan serta menolak Zionisme. Posisi tersebut membuat kematiannya mendapat perhatian di tengah situasi keamanan Iran yang kembali memanas.
Gubernur Zahedan Rakhshani-Nasab menyebut Gorgij selama ini aktif melawan elemen-elemen pemecah belah dan Zionisme. Sementara media Iran Mehr News menuding tentara bayaran Zionis berada di balik pembunuhan tersebut, meski tidak menyertakan bukti atau penjelasan rinci mengenai tuduhan itu.
Di sisi lain, sejumlah media lokal Iran mengaitkan serangan tersebut dengan Jaish al-Adl, kelompok militan Sunni Baluch yang selama ini dituduh melakukan serangan terhadap aparat keamanan Iran. Namun, hingga laporan ini diterbitkan, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas pembunuhan Gorgij.
Pangkalan Quds Pasukan Darat Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengarahkan tudingan kepada kelompok teroris. Tuduhan itu muncul setelah pasukan keamanan Iran mengklaim berhasil membongkar sejumlah jaringan terorisme di Sistan-Baluchestan.
Rangkaian tudingan tersebut menunjukkan bagaimana setiap kekerasan di wilayah sensitif Iran dengan cepat masuk ke dalam narasi keamanan dan politik. Pemerintah Iran menghadapi ancaman dari kelompok bersenjata lokal, sementara isu keterlibatan Israel dan Amerika Serikat kembali menjadi bagian dari tudingan resmi sejumlah pihak.
Ketegangan di Sistan-Baluchestan sendiri meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pada akhir pekan, bentrokan antara pasukan keamanan dan kelompok bersenjata tak dikenal dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Saravan.
Kelompok hak asasi Baluch, Haalvsh, menyebut terdapat serangan terhadap kendaraan militer dan puluhan personel keamanan dilaporkan tewas atau terluka. Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.
Kematian Gorgij terjadi hanya lima hari setelah ulama Sunni Kurdi Mamosta Mohammad Nezhati tewas dalam serangan di Provinsi Azerbaijan Barat pada 9 September 2026. Kasus tersebut juga segera dikaitkan dengan persoalan keamanan dan politik.
Korps Garda Revolusi Iran menuding kelompok separatis Kurdi yang disebut berafiliasi dengan Zionis dan Amerika Serikat berada di balik pembunuhan Nezhati. IRGC juga menyebut Nezhati memiliki riwayat kerja sama dengan organisasi Basij.
Jika ditarik lebih jauh, pembunuhan dua ulama tersebut bukan kasus yang berdiri sendiri. Pada Juli 2026, Imam salat Jumat Sunni Baluch Molavi Mohammad Anvar Rigi juga tewas ditembak orang tak dikenal di Mirjaveh, kota perbatasan di Iran tenggara.
Rangkaian kasus tersebut memperlihatkan rumitnya persoalan keamanan di wilayah yang memiliki sejarah panjang aktivitas kelompok bersenjata. Pada saat yang sama, kematian tokoh-tokoh Sunni berpotensi memperbesar ketegangan politik apabila pemerintah gagal mengungkap pelaku dan motif di balik serangan.
Namun, sampai saat ini, pihak yang bertanggung jawab atas pembunuhan Gorgij maupun Nezhati belum terkonfirmasi secara independen. Berbagai tudingan yang muncul masih berasal dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan politik dan keamanan masing-masing.
Di tengah ketegangan Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, setiap serangan di wilayah konflik domestik pun berpotensi menjadi bagian dari pertarungan narasi yang lebih luas. Karena itu, pengungkapan pelaku dan motif secara transparan menjadi penting untuk mencegah pembunuhan tersebut berkembang menjadi isu politik baru di Iran.



