Mahfud MD Nilai Sudaryono Gagal Atasi Keracunan MBG
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mempertanyakan efektivitas penanganan persoalan keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sorotan itu disampaikan setelah ia melihat jumlah anak yang disebut terdampak keracunan justru mengalami peningkatan.
Mahfud mengatakan persoalan tersebut menjadi indikator penting dalam menilai keberhasilan pengelolaan program MBG. Ia menilai kasus yang muncul tidak lagi terbatas pada satu wilayah, melainkan telah dilaporkan terjadi di berbagai daerah.
Menurut Mahfud, berdasarkan data yang diterimanya, jumlah orang yang terdampak keracunan pada tahun pertama pelaksanaan MBG mencapai 12.658 orang. Angka tersebut, kata dia, meningkat hingga sekitar 51.000 anak sampai awal September 2026.
“Keracunan anak-anak itu lebih banyak dari yang dulu dan tempatnya tersebar hampir di seluruh Indonesia,” ujar Mahfud dalam siniar YouTube, Minggu (13/9/2026).
Mahfud menilai peningkatan tersebut menunjukkan persoalan keamanan makanan dalam program MBG perlu dilihat sebagai masalah yang berkelanjutan. Karena itu, penanganannya menurut dia tidak cukup hanya dilakukan setiap kali insiden terjadi.
Dalam konteks tersebut, Mahfud memberikan penilaian terhadap Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono. Ia mengakui Sudaryono memiliki kemampuan dan dinilai cekatan dalam menjalankan tugas, tetapi menilai hasil penanganan persoalan keracunan belum menunjukkan perbaikan yang diharapkan.
“Sudaryono menurut saya bagus. Kepala MBG-nya bagus. Tetapi, dia gagal sampai saat ini. Kenapa? Itu keracunan jauh lebih banyak dari yang dulu,” kata Mahfud.
Mahfud kemudian menjelaskan bahwa penilaian terhadap Sudaryono tidak berarti seluruh persoalan berada pada dirinya. Menurut dia, posisi Kepala BGN berada dalam kerangka kebijakan pemerintah yang turut menentukan sejauh mana pembenahan program dapat dilakukan.
“Bencananya berarti apa… berkelanjutan. Dan Pak Sudaryono itu gagal untuk mengatasi ini. Dia kan diletakkan di situ untuk memperbaiki,” tuturnya.
Di sisi lain, Mahfud tetap menyebut Sudaryono sebagai sosok yang memiliki kemampuan untuk bergerak cepat. Namun, ia menilai terdapat kondisi tertentu yang membuat ruang gerak Sudaryono untuk melakukan perbaikan secara maksimal menjadi terbatas.
“Oh, dia cekatan, cekatan. Tapi nanti saya tunjukkan kenapa dia gagal. Bukan dia sebenarnya masalahnya. Masalahnya di kebijakan pemerintahnya bagaimana sebenarnya. Dia itu kan terjebak pada satu situasi di mana dia tidak bisa meleluasa memperbaiki meskipun orangnya bagus,” jelas Mahfud.
Pernyataan Mahfud tersebut menempatkan persoalan keracunan MBG bukan hanya sebagai persoalan teknis pelaksanaan di lapangan. Ia juga mengaitkannya dengan kebijakan yang mengatur program serta kewenangan pengelola dalam melakukan evaluasi dan perbaikan.
Dengan cakupan MBG yang luas dan jumlah penerima manfaat yang besar, Mahfud menilai persoalan keamanan pangan menjadi bagian penting yang harus dibenahi. Terlebih, data yang ia sampaikan menunjukkan adanya peningkatan jumlah korban dibandingkan periode sebelumnya.



