Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.723 per Dolar AS

Ilustrasi mata uang Dollar AS.(UNSPLASH/Frederick Warren)

Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Selasa (25/8/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp17.723 per dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun tipis 2 poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pergerakan rupiah tidak terlepas dari penguatan indeks dolar AS di pasar global.

Menurut Ibrahim, sentimen tersebut salah satunya muncul setelah pemerintah AS mengumumkan perluasan sanksi terhadap Iran sebagai bagian dari upaya memberikan tekanan ekonomi terhadap negara tersebut.

“Indeks Dolar AS menguat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengumumkan perluasan sanksi untuk memutus jalur kehidupan ekonomi Iran guna memaksa berakhirnya konflik,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya.

Bessent sebelumnya menyampaikan bahwa negara-negara yang masih mempertahankan hubungan bisnis dengan Iran dapat menghadapi konsekuensi terhadap akses mereka ke sistem keuangan berbasis dolar AS.

Meski demikian, pemerintah AS belum merinci negara-negara yang berpotensi menjadi sasaran kebijakan tersebut. Negara yang terdampak disebut masih memiliki waktu untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan Washington.

Dari sisi geopolitik, pasar juga mencermati pernyataan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth yang tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap Iran.

Namun, Washington saat ini lebih banyak mengedepankan instrumen ekonomi dalam memberikan tekanan. Perkembangan tersebut turut menjadi perhatian pelaku pasar karena berkaitan dengan potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Selain perkembangan geopolitik, kebijakan fiskal AS juga menjadi faktor yang diperhatikan investor. Bessent menyatakan pemerintah AS siap memperluas pembelian kembali surat utang pemerintah berjangka panjang.

Pemerintah AS juga disebut tengah menyiapkan kebijakan fiskal untuk merespons tingginya biaya pembiayaan utang negara.

Di tengah berbagai sentimen tersebut, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data ekonomi AS, khususnya inflasi. Investor juga menunggu pidato pertama Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, dalam agenda Jackson Hole.

“Investor menantikan data inflasi AS mendatang dan pidato pertama Ketua Dewan Gubernur Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole,” kata Ibrahim.

Menurut dia, data inflasi akan menjadi salah satu indikator penting untuk membaca arah kebijakan bank sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed).

Apabila tekanan inflasi menunjukkan penurunan, pasar dapat semakin memperkirakan ruang bagi The Fed untuk menerapkan kebijakan moneter yang lebih longgar.

“Kondisi inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat ekspektasi akan kebijakan The Fed yang lebih longgar,” tandas Ibrahim.

Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan dipengaruhi perkembangan dolar AS, kebijakan ekonomi Washington, kondisi geopolitik Timur Tengah, serta ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed.

Tutup