591 Sekolah di Malaysia Ditutup Akibat Kabut Asap

Bendera Malaysia.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan kembali meluas hingga ke wilayah Sarawak, Malaysia. Memburuknya kualitas udara membuat pemerintah setempat mengambil langkah antisipasi dengan menutup sementara ratusan sekolah.

Departemen Pendidikan Sarawak mencatat 591 sekolah di 10 distrik harus menghentikan kegiatan belajar tatap muka. Wilayah yang terdampak meliputi Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.

Kebijakan tersebut berdampak terhadap 197.323 pelajar, yang terdiri dari 107.590 murid sekolah dasar dan 89.733 siswa sekolah menengah.

Penutupan dilakukan selama dua hari untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat paparan udara tercemar. Kendati demikian, proses belajar mengajar tetap dilaksanakan melalui pembelajaran dari rumah.

“Pembelajaran dan pengajaran berbasis rumah (PdPR) akan diterapkan selama penutupan untuk memastikan pelajaran berlanjut tanpa gangguan,” ujar Departemen Pendidikan Sarawak, dikutip Jumat (21/8/2026).

Kondisi tersebut bukan kali pertama sekolah di Sarawak ditutup akibat kabut asap dalam beberapa pekan terakhir. Sebelumnya, sekolah-sekolah di Serian juga sempat diliburkan selama tiga hari setelah tingkat polusi udara di wilayah tersebut mencapai level berbahaya.

Pada Kamis (20/8/2026), Indeks Polusi Udara (API) di Serian tercatat mencapai 204, yang masuk kategori sangat tidak sehat. Sejumlah wilayah lain juga mencatat angka tinggi, seperti Kuching 195, Samarahan 182, Sri Aman 179, Sarikei 158, dan Sibu 152.

Dalam klasifikasi API yang digunakan Sarawak, indeks 101-200 masuk kategori tidak sehat. Sementara angka 201-300 dikategorikan sangat tidak sehat.

Asap Lintas Batas dari Kalimantan

Dewan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Sarawak (NREB) memperkirakan kabut asap masih berpotensi bertahan dalam beberapa hari mendatang. Kondisi tersebut bergantung pada perkembangan aktivitas pembakaran biomassa dan kondisi cuaca di wilayah sekitar.

Berdasarkan pemantauan ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC), terdapat 7.286 titik panas di Kalimantan yang terdeteksi sepanjang 1-19 Agustus 2026. Pada periode yang sama, Sarawak mencatat 148 titik panas.

ASMC juga mendeteksi asap lintas batas dengan intensitas sedang hingga tebal dari wilayah Kalimantan Barat yang bergerak menuju sejumlah kawasan di Sarawak bagian barat.

NREB memperingatkan risiko kabut asap dapat kembali meningkat apabila aktivitas kebakaran terus berlangsung, terutama di wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan.

“Situasi titik api dan kabut asap dapat meningkat di daerah rawan kebakaran yang mengalami kondisi kekeringan berkepanjangan dengan risiko terjadinya kabut asap lintas batas,” kata NREB.

Kondisi ini kembali menunjukkan bahwa karhutla di Kalimantan berpotensi memberikan dampak lintas negara. Selain mengganggu kualitas udara di wilayah terdampak, kabut asap juga dapat menghambat aktivitas pendidikan dan kehidupan masyarakat di kawasan Sarawak.

Tutup