IHSG Kembali Tembus 6.500 di Awal Perdagangan

IHSG Ilustrasi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan penguatan pada awal perdagangan Jumat (21/8/2026). Tren positif ini meneruskan kenaikan sehari sebelumnya, ketika IHSG berhasil kembali menembus level psikologis 6.500.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.526,30. Indeks menguat 24,71 poin atau 0,38 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.501,59.

Pada awal sesi, IHSG dibuka di posisi 6.524,07. Pergerakan indeks sempat mencapai level tertinggi 6.531,49 dan menyentuh level terendah 6.522,92.

Penguatan IHSG juga tercermin dari mayoritas saham yang bergerak di zona hijau. Sebanyak 307 saham tercatat menguat, sementara 101 saham melemah dan 555 saham lainnya belum mengalami perubahan.

Hingga awal perdagangan, volume transaksi tercatat sekitar 1,49 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp702,99 miliar.

Saham LQ45 Bergerak Beragam

Di jajaran saham unggulan LQ45, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) menjadi salah satu saham dengan penguatan terbesar, yakni 1,45 persen.

Posisi berikutnya ditempati PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang naik 1,27 persen dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang menguat 1,11 persen.

Sebaliknya, sejumlah saham LQ45 masih bergerak di zona merah. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat penurunan terbesar sebesar 1,82 persen, disusul PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) yang melemah 1,33 persen dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) turun 0,97 persen.

Sentimen Global dan Domestik

Pergerakan IHSG pada perdagangan terakhir pekan ini masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen dari dalam maupun luar negeri.

Dari pasar global, investor mencermati perkembangan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Ancaman sanksi ekonomi yang lebih berat serta rencana pengetatan blokade terhadap Iran berpotensi meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi dan aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Sementara dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan kuartal II 2026 oleh Bank Indonesia (BI).

Pada kuartal I 2026, NPI Indonesia mencatat defisit sebesar 9,1 miliar Dolar AS. Sementara transaksi berjalan mengalami defisit 4 miliar Dolar AS atau setara 1,1 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Data terbaru NPI dan transaksi berjalan akan menjadi perhatian pasar untuk melihat kondisi sektor eksternal Indonesia serta perkembangan arus modal asing.

Selain itu, BI dijadwalkan merilis data uang beredar periode Juli 2026. Sebelumnya, jumlah uang beredar luas atau M2 pada Juni 2026 tumbuh 8,7 persen secara tahunan menjadi Rp10.432,8 triliun.

Pada periode yang sama, penyaluran kredit perbankan tercatat tumbuh 12,1 persen. Data tersebut akan menjadi salah satu indikator yang dicermati investor dalam melihat kondisi likuiditas dan aktivitas ekonomi domestik.

Tutup