Rupiah Kembali Perkasa Jelang Akhir Pekan

Ilustrasi uang.

Nilai tukar Rupiah kembali menguat terhadap Dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (21/8/2026). Penguatan tersebut melanjutkan tren positif Rupiah dalam dua sesi perdagangan sebelumnya.

Mengacu pada data Refinitiv, Rupiah dibuka menguat 0,11 persen ke level Rp17.720 per Dolar AS. Pada perdagangan sehari sebelumnya, mata uang Garuda juga menguat 0,48 persen dan ditutup di posisi Rp17.740 per Dolar AS.

Sebelumnya, Rupiah telah mencatatkan penguatan 0,14 persen pada perdagangan Rabu (19/8/2026).

Penguatan Rupiah terjadi seiring dengan pelemahan indeks Dolar AS atau DXY. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat turun 0,10 persen ke level 98,799 setelah sehari sebelumnya menguat tipis 0,06 persen.

Pergerakan mata uang Garuda pada perdagangan Jumat masih akan dipengaruhi perkembangan pasar obligasi Amerika Serikat serta sentimen investor terhadap kondisi ekonomi global.

Salah satu perhatian pasar berasal dari kebijakan Departemen Keuangan AS yang berencana meningkatkan pembelian kembali obligasi pemerintah bertenor 10 hingga 30 tahun menjadi sedikitnya 4 miliar Dolar AS dalam setiap operasi.

Kebijakan tersebut ditempuh untuk meredakan tekanan di pasar surat utang Amerika Serikat yang muncul akibat kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal. Namun, langkah tersebut juga sempat menekan Dolar AS karena pasar menilai persoalan defisit berpotensi mendorong pelemahan mata uang, bukan hanya kenaikan imbal hasil obligasi.

Dolar AS sempat kembali menguat tipis pada perdagangan Kamis setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS meningkat. Meski demikian, pelaku pasar masih mempertanyakan seberapa efektif program pembelian kembali obligasi tersebut dalam menjaga stabilitas pasar surat utang dalam jangka panjang.

Pergerakan Mata Uang Global

Di kawasan Asia, sejumlah mata uang turut melemah terhadap Dolar AS pada awal perdagangan Jumat. Yen Jepang tertekan 0,10 persen ke level 158,89 per Dolar AS pada pukul 06.18 WIB. Yuan China juga melemah tipis 0,10 persen menjadi 6,7250 per Dolar AS.

Kondisi berbeda terlihat pada mata uang utama Eropa. Euro menguat 0,08 persen ke level 1,1687 per Dolar AS, sedangkan Poundsterling naik 0,07 persen ke posisi 1,3640 per Dolar AS.

Pelaku pasar global selanjutnya akan mencermati pidato Ketua The Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole. Pernyataan tersebut dinilai dapat memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter dan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Data Ekonomi Indonesia Jadi Perhatian

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) dijadwalkan merilis data Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan kuartal II-2026 pada Jumat (21/8/2026).

Data tersebut menjadi salah satu indikator penting untuk melihat kondisi sektor eksternal Indonesia, termasuk kemampuan perekonomian dalam menghadapi perubahan arus modal serta ketidakpastian ekonomi global.

Hasil data NPI juga berpotensi menjadi salah satu sentimen yang memengaruhi pergerakan Rupiah pada perdagangan selanjutnya.

Tutup