Harga Ikan Asin Tembus Rp200 Ribu per Kg
Harga berbagai jenis ikan asin di Pasar Ikan Asin Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir. Komoditas yang selama ini dikenal sebagai lauk sederhana dan sumber protein murah bagi masyarakat kini dijual dengan harga jauh lebih tinggi, bahkan untuk beberapa jenis telah melampaui harga daging.
Salah satu kenaikan paling mencolok terjadi pada ikan asin kapasan yang kini dibanderol sekitar Rp200.000 per kilogram. Selain itu, harga ikan asin jenis lain seperti teri nasi, ikan peda, hingga ikan layang rebus juga mengalami kenaikan, sehingga turut membebani pedagang maupun konsumen.
Kondisi tersebut membuat daya beli masyarakat mulai melemah. Sejumlah pembeli memilih mengurangi jumlah pembelian, sementara pedagang terpaksa menyesuaikan stok untuk menghindari kerugian akibat permintaan yang menurun.
Peneliti dan Pakar Ekonomi Digital serta UMKM Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Fadhila Maulida, menilai persoalan yang terjadi bukan sekadar kenaikan harga, melainkan bergesernya posisi ikan asin dalam struktur konsumsi masyarakat.
Menurut Fadhila, secara historis ikan asin merupakan sumber protein yang murah, memiliki daya simpan lama, tidak memerlukan lemari pendingin, dan menjadi penyangga kebutuhan gizi rumah tangga berpenghasilan rendah.
“Ketika komoditas ini berubah menjadi barang yang relatif mahal, yang hilang bukan hanya keterjangkauannya, tetapi juga fungsi sosialnya sebagai jaring pengaman pangan,” ujar Fadhila, dikutip dari Kompas.com, Jumat (31/7/2026).
Ia menilai, lonjakan harga tersebut bukan hanya mengurangi akses masyarakat terhadap sumber protein yang terjangkau, tetapi juga mengikis peran ikan asin sebagai komoditas pangan rakyat. Jika tren ini terus berlanjut, tekanan terhadap daya beli masyarakat berpotensi semakin besar, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah yang selama ini mengandalkan ikan asin sebagai alternatif lauk sehari-hari.




