Pengeluaran Gen Z Jakarta Tembus Rp11,9 Juta per Bulan

Ilustrasi uang.

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi DKI Jakarta mencatat rata-rata pengeluaran generasi Z (Gen Z) di Ibu Kota sepanjang 2025 mencapai Rp11.969.830 per bulan. Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan nonmakanan.

Berdasarkan data BPS, pengeluaran untuk kebutuhan nonmakanan mencapai sekitar Rp7,14 juta per bulan atau hampir 60 persen dari total pengeluaran. Sementara itu, belanja makanan tercatat sebesar Rp4,83 juta setiap bulan.

Kepala BPS DKI Jakarta, Kadarmanto, mengatakan tingginya pengeluaran nonmakanan menunjukkan bahwa biaya hidup anak muda di Jakarta tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan pangan, tetapi juga berbagai kebutuhan penunjang aktivitas sehari-hari.

Kebutuhan tersebut meliputi biaya tempat tinggal, transportasi, pendidikan, komunikasi, kesehatan, perlengkapan kerja, hingga pembelian perangkat elektronik.

Data BPS juga menunjukkan adanya perbedaan pengeluaran di setiap wilayah Jakarta. Jakarta Selatan menjadi daerah dengan rata-rata pengeluaran tertinggi, yakni mencapai Rp15,17 juta per bulan. Sebaliknya, Kepulauan Seribu mencatat pengeluaran terendah dengan rata-rata sekitar Rp6,08 juta per bulan.

Tantangan Ekonomi Masih Membayangi

Besarnya biaya hidup tersebut terjadi di tengah tantangan ekonomi yang masih dihadapi sebagian generasi muda.

BPS mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) kelompok usia 15–29 tahun di DKI Jakarta pada Agustus 2025 mencapai 13,65 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 30–59 tahun yang berada di angka 3,25 persen.

Selain itu, sekitar 21,47 persen pekerja muda masih berada di sektor informal, sehingga pendapatan yang diterima cenderung tidak tetap dan lebih rentan terhadap perubahan kondisi ekonomi.

PayLater Dinilai Bisa Membantu, Asal Digunakan Bijak

Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menilai meningkatnya penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater di kalangan Gen Z dipengaruhi oleh kemudahan akses kredit digital dan kebutuhan menjaga arus kas saat pendapatan belum diterima.

Menurutnya, layanan tersebut dapat menjadi solusi jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Namun, ia mengingatkan bahwa PayLater tetap merupakan utang yang harus dibayar, bukan tambahan pemasukan.

“PayLater bisa menjadi instrumen yang membantu ketika digunakan secara terukur. Namun pengguna harus memastikan cicilan tetap sesuai kemampuan dan tidak mengganggu kebutuhan pokok maupun tabungan,” ujarnya.

Adrian mengingatkan penggunaan PayLater tanpa perencanaan dapat memicu masalah keuangan akibat beban cicilan, bunga, biaya layanan, hingga potensi denda keterlambatan.

Karena itu, masyarakat, khususnya generasi muda, diimbau lebih bijak mengelola keuangan. Perencanaan anggaran, membangun dana darurat, dan menggunakan fasilitas kredit secara proporsional dinilai menjadi kunci agar kondisi finansial tetap sehat di tengah tingginya biaya hidup di Jakarta.

Tutup