Dolar AS Loyo, Investor Cermati The Fed

Ilustrasi mata uang Dollar AS.(UNSPLASH/Frederick Warren)

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali ditutup melemah pada perdagangan Kamis (9/7/2026) waktu New York. Pelemahan yang berlangsung selama dua hari berturut-turut itu dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sikap investor yang masih mencermati prospek inflasi dan kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,15 persen ke level 100,87. Di saat yang sama, euro menguat 0,19 persen menjadi US$1,1436, sedangkan poundsterling naik 0,23 persen ke level US$1,3415.

Sentimen pasar berubah setelah konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Teluk sebagai respons atas operasi militer Washington di wilayah Iran. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan dan dampaknya terhadap ekonomi global.

Meski tensi geopolitik meningkat, harga minyak dunia justru bergerak turun. Pelaku pasar menilai risiko perlambatan ekonomi akibat tekanan inflasi lebih besar dibandingkan potensi gangguan pasokan energi.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 2,65 persen menjadi US$71,57 per barel, sementara minyak Brent terkoreksi 2,95 persen ke posisi US$75,72 per barel.

Di sisi lain, investor juga mencermati risalah rapat The Fed pada 16–17 Juni yang memperlihatkan para pejabat bank sentral masih mewaspadai tekanan inflasi. Meski demikian, mayoritas anggota tetap memutuskan mempertahankan suku bunga acuan.

Presiden Federal Reserve New York, John Williams, menilai dampak kenaikan harga energi akibat konflik Timur Tengah diperkirakan tidak akan berlangsung lama, sehingga tekanan inflasi diprediksi masih dapat dikendalikan.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) memperkirakan inflasi di kawasan euro masih akan bertahan di atas target dalam waktu dekat meskipun kebijakan suku bunga telah diperketat.

Dari sisi ekonomi AS, kondisi pasar tenaga kerja masih relatif solid. Klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 215 ribu pada pekan lalu, lebih rendah dibandingkan proyeksi pasar sebesar 218 ribu.

Terhadap mata uang Jepang, dolar AS juga melemah 0,18 persen menjadi 162,30 yen. Bank of Japan (BOJ) sebelumnya mengingatkan bahwa konflik di Timur Tengah berpotensi meningkatkan tekanan harga di Jepang, sehingga membuka peluang kenaikan suku bunga pada periode mendatang.

Tutup