UGM Dampingi UMKM Bantul Siap Ekspor Produk Herbal dan Rempah ke Malaysia

Tim Kedokteran Herbal UGM melakukan pembinaan pembuatam jamu kepada masyarakat di Singosaren, Bantul, DIY. (ugm.ac.id)

Universitas Gadjah Mada (UGM) terus mendorong pelaku UMKM binaannya agar mampu menembus pasar internasional.

Dua UMKM asal Kalurahan Singosaren, Bantul, yakni Kafe Lokanusa dan Jamu Jogorogo, kini tengah dipersiapkan untuk mengekspor produk herbal dan rempah ke Malaysia.

Berbagai produk yang dihasilkan kedua UMKM tersebut telah memenuhi sejumlah persyaratan dasar, mulai dari sertifikat halal, izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), hingga pengujian higienitas untuk beberapa produk.

Produk unggulan seperti Jamu Jogorogo, teh herbal, dan bumbu rempah menjadi komoditas yang diproyeksikan masuk ke pasar Malaysia.

Peneliti Pusat Kedokteran Herbal UGM, Dr. Arko Jatmiko Wicaksono, menjelaskan pihaknya telah memulai kolaborasi internasional sejak April 2026 guna mempersiapkan proses registrasi produk di Malaysia. Upaya tersebut diperkuat melalui kunjungan ke Kuala Lumpur pada 18–21 Juni untuk membangun kerja sama dengan sejumlah mitra.

Menurut Arko, hasil penelusuran pasar menunjukkan produk herbal dan rempah asal Indonesia memiliki peluang besar di Malaysia. Selain karena masyarakat setempat sudah akrab dengan konsumsi jamu dan minuman herbal, besarnya komunitas diaspora Indonesia di Kuala Lumpur juga menjadi pasar potensial yang merindukan cita rasa khas Nusantara.

“Dengan dukungan riset dan jejaring global, saya yakin produk kita akan diterima di pasar internasional,” ujar Arko, Kamis (9/7).

Dalam kunjungan tersebut, UGM juga menjalin kerja sama dengan International Medical University (IMU) Malaysia. Laboratorium milik IMU yang telah terakreditasi akan digunakan untuk menguji kualitas produk herbal binaan UGM sebelum dipasarkan secara resmi.

Pengujian meliputi stabilitas bahan baku, cemaran mikroba, kandungan logam berat, serta berbagai parameter lain yang menjadi syarat National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA), lembaga pengawas obat dan makanan di Malaysia.

“Kami sepakat melakukan pengujian sesuai standar NPRA agar proses registrasi produk dapat berjalan lebih cepat dan terukur,” kata Arko.

Selain pengujian laboratorium, tim UGM juga berhasil membuka peluang distribusi dengan menggandeng calon distributor di Malaysia. Distributor tersebut menyatakan siap memasarkan produk setelah izin edar dari NPRA diterbitkan.

“Kami sudah menjalin komunikasi dengan calon distributor. Setelah lisensi keluar, produk bisa langsung dikirim. Ini menjadi percepatan yang kami targetkan sejak awal,” tambahnya.

Arko menuturkan keunggulan utama produk yang akan dipasarkan adalah cita rasa tradisional Indonesia yang autentik.

Menurutnya,Perpaduan rempah pilihan dan aroma bunga pada produk teh menjadi nilai pembeda dibanding produk sejenis di pasaran.

Bahkan, bumbu rempah Lokanusa mendapat respons positif dari sejumlah pelaku usaha kuliner di Malaysia.

Salah satu pemilik restoran disebut telah menyatakan minat menjadi distributor setelah produk memperoleh izin edar.

Hasil uji pasar juga menunjukkan aroma dan cita rasa produk mampu menarik perhatian konsumen. Dengan harga sekitar Rp50 ribu per 100 gram untuk bumbu rempah dan Rp30 ribu per 50 gram untuk teh herbal, ekspor ke Malaysia diperkirakan dapat meningkatkan omzet UMKM sekaligus memperluas pasar di tengah dinamika nilai tukar rupiah.

Melalui kerja sama pengujian laboratorium, pembukaan jalur distribusi, dan validasi pasar di Malaysia, UGM optimistis produk herbal dan rempah binaannya mampu bersaing di pasar internasional.

Pendampingan akan terus dilakukan hingga produk benar-benar dipasarkan di Malaysia, sekaligus membuka peluang ekspansi ke negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. (H. Husaini)

 

 

Tutup