Pengamat Nilai Narji Keliru Tinggalkan PKS demi PSI

Narji berlabuh ke PSI

Kepindahan komedian sekaligus mantan calon legislatif PKS, Narji, ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memicu beragam tanggapan. Salah satunya datang dari pengamat politik yang menilai keputusan tersebut kurang menguntungkan dari sisi kalkulasi politik.

Narji resmi diperkenalkan sebagai kader PSI melalui prosesi penyematan jaket partai yang digelar DPW PSI Banten pada 5 Juli 2026. Sebelumnya, ia diketahui bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sejak 2021 dan sempat maju sebagai calon anggota legislatif dari partai tersebut.

Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, menilai langkah Narji meninggalkan PKS cukup mengejutkan mengingat posisi PKS dinilai masih lebih kuat dalam peta politik nasional.

Menurutnya, PKS memiliki basis pemilih yang lebih stabil serta telah memiliki representasi di parlemen, sedangkan PSI masih berupaya memperluas kekuatan politiknya.

“Menurut saya keputusan itu kurang tepat. Dari sisi posisi politik maupun elektabilitas, PKS masih berada di atas PSI,” kata Jerry, Jumat (10/7/2026).

Jerry berpandangan, jika memang ingin melanjutkan karier politik di partai lain, Narji memiliki pilihan yang dinilai lebih strategis.

Ia menyebut sejumlah partai besar seperti PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra, maupun Partai Demokrat memiliki peluang politik yang lebih terbuka karena telah memiliki jaringan dan kekuatan elektoral yang mapan.

“Kalau tujuannya membangun karier politik, mestinya mempertimbangkan partai yang peluangnya lebih besar,” ujarnya.

Lebih lanjut, Jerry menduga perpindahan Narji lebih bernilai simbolis dibandingkan sebagai keputusan yang didasarkan pada perhitungan politik jangka panjang.

“Saya melihat ini lebih sebagai langkah untuk menarik perhatian publik. Ke depan tentu waktu yang akan membuktikan apakah keputusan ini tepat atau tidak,” tutupnya.

Tutup