Teguh Santosa: Indonesia Harus Tinggalkan Posisi Negara Pinggiran

Teguh Santosa saat menyampaikan pandangan dalam Belt and Road Journalists Forum (BRJF) 2025 di Ganzhou, Tiongkok, Sabtu (19/7/2025). Foto: Istimewa.

Serangkaian kunjungan kepala negara dan kepala pemerintahan ke Indonesia dalam beberapa hari terakhir dinilai mencerminkan meningkatnya perhatian dunia terhadap arah kebijakan luar negeri dan pembangunan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Direktur Geopolitik GREAT Institute, Teguh Santosa, menilai kedatangan Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong, serta Perdana Menteri India Narendra Modi dalam waktu yang berdekatan menunjukkan Indonesia semakin dipandang sebagai mitra strategis di kawasan.

“Pemimpin-pemimpin dunia dapat melihat dan mengapresiasi pendekatan baru yang digunakan pemerintahan Indonesia di era Prabowo Subianto. Orientasi pembangunan yang memberikan peran besar pada negara atau state-driven orientation ini bertujuan untuk memperkuat fondasi ekonomi dan politik Indonesia di panggung global. Tentu ini hal yang positif sehingga diapresiasi,” ujar Teguh, Senin (6/7/2026).

Menurut Teguh, salah satu contoh perubahan pendekatan tersebut terlihat dalam hubungan Indonesia dan Singapura. Selama ini, hubungan kedua negara kerap dipandang berada dalam pola center-periphery, di mana Indonesia lebih banyak berperan sebagai penyedia nilai tambah ekonomi bagi Singapura.

Namun, penandatanganan 26 perjanjian dan kesepakatan dalam pertemuan Leaders’ Retreat Indonesia-Singapura dinilai mencerminkan upaya membangun kemitraan yang lebih setara dan saling menguntungkan.

Meski demikian, Teguh mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan lagi terletak pada proses diplomasi, melainkan pada implementasi berbagai kesepakatan yang telah dicapai.

Menurutnya, seluruh jajaran pemerintah, mulai dari menteri koordinator, menteri teknis hingga pelaksana di lapangan, harus memiliki visi yang sama agar seluruh kerja sama internasional dapat diterjemahkan menjadi hasil nyata bagi masyarakat.

“Mereka harus bisa bergerak seirama dengan kebijakan besar Prabowo yang menjiwai kesepakatan-kesepakatan itu,” katanya.

Ia menilai Indonesia selama ini sering menghadapi kendala pada tahap pelaksanaan, bukan pada penyusunan kebijakan. Karena itu, konsistensi dan disiplin dalam menindaklanjuti setiap kesepakatan internasional menjadi faktor penentu keberhasilan.

Teguh juga menegaskan bahwa kerja sama antarnegara tidak hanya bergantung pada kemauan mitra, tetapi juga pada kemampuan Indonesia memperjuangkan kepentingan nasional melalui diplomasi dan pelaksanaan kebijakan yang efektif.

Menanggapi dinamika geopolitik global, termasuk persaingan Amerika Serikat dan China, Teguh berpandangan kedua negara tersebut memahami bahwa setiap negara memiliki kepentingan nasional yang harus diperjuangkan.

Karena itu, Indonesia dinilai perlu terus memperkuat posisi tawarnya agar tidak hanya menjadi pasar atau pelengkap dalam kerja sama internasional, tetapi mampu berperan sebagai mitra strategis yang memiliki pengaruh lebih besar.

“Kita tidak boleh berada di posisi pinggiran, namun harus terus memperjuangkan posisi yang lebih sentral dan menguntungkan,” pungkas Teguh.

Tutup