Kepercayaan Investor Melemah, Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Tekanan terhadap perekonomian Indonesia kembali tercermin dari pergerakan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (6/7/2026). Pelemahan tersebut dipicu meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek ekonomi nasional.
Mengacu pada data Bloomberg, rupiah sempat melemah 44 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp18.007 per dolar AS dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Meski sempat pulih menjelang penutupan, rupiah tetap berakhir di level Rp17.995 per dolar AS atau turun sekitar 32 poin.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan sentimen negatif dipicu laporan terbaru Fitch Ratings yang menilai kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia mulai melemah.
“Perhatian sesungguhnya dari Fitch ialah pada aspek kepercayaan investor yang kian melemah akibat memburuknya tata kelola ekonomi,” kata Ibrahim dalam risetnya.
Menurut Ibrahim, Fitch juga menyoroti pelemahan rupiah, menurunnya cadangan devisa, hingga derasnya arus modal keluar yang dinilai dapat memperbesar tekanan terhadap perekonomian nasional.
“Lembaga pemeringkat itu memperingatkan bahwa tekanan berkepanjangan dapat meningkatkan utang dan biaya pinjaman pemerintah sekaligus memperbesar risiko terhadap penurunan peringkat utang (sovereign rating) Indonesia yang pada Maret 2026 masih dipertahankan pada level BBB dengan prospek (outlook) negatif,” ujarnya.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026. Angka tersebut mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama enam tahun atau 72 bulan berturut-turut.
“Selain Fitch Ratings, pasar juga gelisah setelah neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit,” kata Ibrahim.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia terus melakukan langkah stabilisasi untuk menjaga nilai tukar rupiah. Upaya itu dilakukan melalui intervensi di pasar valas menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF), transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
“Bank sentral juga terus memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi maupun pelaku pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan,” ujar Ibrahim.
Pelaku pasar kini mencermati efektivitas langkah Bank Indonesia dalam meredam tekanan di pasar keuangan, sekaligus menunggu respons pemerintah terhadap berbagai indikator ekonomi yang belakangan menjadi perhatian lembaga pemeringkat dan investor global.



