PMMP Terlilit Utang Rp2 Triliun, Kaesang Tercatat Pemegang Saham

Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kaesang Pangarep saat menjalani sesi foto di Darwis Triadi School of Photography, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (4/10/2023) - (Foto: Inilah.com/ Vonita Betalia)

PT Panca Mitra Multiperdana Tbk (PMMP), perusahaan pengolahan dan eksportir udang beku, tengah menghadapi tekanan keuangan yang berat. Emiten berkode saham PMMP itu mengajukan restrukturisasi utang kepada sejumlah bank dan lembaga pembiayaan setelah total kewajibannya mencapai lebih dari Rp2 triliun.

Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), langkah restrukturisasi ditempuh sebagai upaya menjaga keberlangsungan usaha. Manajemen menyebut nilai kewajiban yang disampaikan belum termasuk bunga pinjaman.

“Perseroan telah mengajukan permohonan restrukturisasi kepada seluruh kreditur sebagai upaya menjaga kelangsungan usaha perusahaan,” tulis manajemen PMMP dalam keterbukaan informasi.

Utang terbesar berasal dari Bank Permata dengan outstanding sebesar US$53,12 juta atau sekitar Rp929,6 miliar, ditambah fasilitas pembiayaan Rp5,49 miliar. PMMP juga memiliki kewajiban kepada Bank BCA sebesar US$40,29 juta atau sekitar Rp705 miliar.

Selain itu, perusahaan masih menanggung utang kepada Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) sebesar US$30,71 juta atau sekitar Rp537,4 miliar, PT Bank SMBC Indonesia Tbk sebesar US$22,80 juta atau sekitar Rp400 miliar, serta pinjaman dari PT Bank Maspion Indonesia Tbk dan PT Bank Resona Perdania.

Kondisi keuangan tersebut turut berdampak pada aktivitas operasional perusahaan. Saat ini PMMP hanya mengoperasikan satu pabrik di Situbondo. Untuk memenuhi permintaan ekspor, perusahaan membeli produk jadi dari pihak lain dengan skema pembayaran setelah hasil ekspor diterima.

Manajemen mengungkapkan perusahaan membutuhkan tambahan modal kerja sekitar US$15 juta atau setara Rp269 miliar agar operasional dapat kembali berjalan normal.

“Perseroan memerlukan tambahan modal kerja sekitar US$15 juta untuk mendukung kegiatan operasional agar dapat kembali berjalan secara optimal,” tulis manajemen.

Efisiensi juga dilakukan melalui pengurangan tenaga kerja. Sejak 2024 hingga saat ini, PMMP telah melakukan PHK terhadap 37 staf dan 79 pekerja harian. Selain itu, sebanyak 82 karyawan memilih mengundurkan diri.

Tekanan terhadap perusahaan juga tercermin dari kinerja keuangannya. Pada 2024, PMMP membukukan rugi bersih sekitar Rp252,76 miliar, berbalik dari laba Rp87,60 miliar pada tahun sebelumnya.

Kondisi memburuk pada laporan keuangan per 31 Desember 2025. Perusahaan mencatat rugi bersih sebesar US$122,92 juta atau sekitar Rp1,93 triliun, jauh lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya yang masih membukukan laba.

Di tengah kondisi tersebut, Direktur Pemasaran PMMP mengundurkan diri pada 25 Februari 2026 setelah sekitar 12 tahun berkarier di perusahaan. Hingga kini belum ada penjelasan resmi terkait alasan pengunduran dirinya.

Dalam struktur pemegang saham, PT Harapan Bangsa Kita (GK Hebat), perusahaan yang didirikan Kaesang Pangarep, tercatat memiliki sekitar 188,24 juta lembar saham atau setara 7,27 persen saham PMMP.

Tutup