Pengusaha Restoran di Jababeka Mengaku Rugi Rp20 Juta Akibat Pemadaman Listrik

Restoran dan Cafe live musik di Jababeka Cikarang.

Pemadaman listrik yang terjadi dalam dua hari berturut-turut di kawasan Jababeka, Cikarang Utara, dikeluhkan sejumlah pelaku usaha. Gangguan pasokan listrik tersebut disebut berdampak langsung terhadap operasional bisnis hingga menyebabkan kerugian puluhan juta rupiah.

Salah satu keluhan datang dari Indra Senjayani, pemilik restoran di Jalan Dokter Satrio, Desa Simpangan, Kecamatan Cikarang Utara. Ia mengatakan pemadaman pertama terjadi pada Kamis (18/6) sekitar pukul 11.00 WIB hingga 14.00 WIB.

Menurut Indra, gangguan listrik pada siang hari tersebut membuat berbagai aktivitas persiapan operasional restoran tidak dapat berjalan normal.

“Dampak hari Kamis aktivitas operasional tidak jalan jadi tertunda. Gak bisa ngepel, cleaning area, kitchen persiapan masak, coffee shop. Udah ada pengunjung tapi pulang lagi karna mati lampu,” ujarnya.

Namun kerugian terbesar justru terjadi saat pemadaman kembali berlangsung pada Jumat (19/6) malam. Saat itu, restoran miliknya tengah bersiap menggelar acara hiburan musik dan sudah dipadati puluhan pengunjung.

Listrik dilaporkan padam sejak pukul 17.30 WIB hingga sekitar 21.30 WIB atau bertepatan dengan jam-jam tersibuk operasional restoran.

Akibat kondisi tersebut, sejumlah pengunjung memilih meninggalkan lokasi. Sementara pengunjung yang bertahan bersama para pengisi acara terpaksa menunggu di area parkir karena kondisi ruangan yang gelap dan panas.

“Pengunjung ada yang pulang ada yg nunggin harusnya event mulai jam 20.00 WIB tertunda jadi jam 22.00 WIB malem. Pengunjung dan bintang tamu pada ke area parkir nunggu listrik menyala karna kan di dalem gelap dan gerah,” kata Indra.

Ia menjelaskan, keterlambatan acara membuat target pendapatan yang sebelumnya diproyeksikan mencapai Rp18 juta tidak tercapai. Restoran hanya memperoleh pemasukan sekitar Rp5 juta, sementara biaya operasional tetap harus dibayarkan penuh.

“Kerugian materil harusnya pada hari Jumat dapat Rp18 juta, jadi dapat Rp5 juta, jadi saya nombok untuk pengeluaran pembayaran bintang tamu band karna bayarannya kan harus full. Terus pengunjung juga jadi berkurang karna menyala udah jam 22.00 WIB sedangkan tutup jam 01.00 WIB,” ungkapnya.

Secara keseluruhan, Indra memperkirakan kerugian yang dialami selama dua hari pemadaman mencapai lebih dari Rp20 juta.

Selain persoalan kerugian finansial, ia juga menyoroti tidak adanya pemberitahuan yang diterima pelaku usaha sebelum pemadaman berlangsung. Menurutnya, informasi lebih awal sangat penting agar tenant maupun pelaku usaha dapat menyiapkan langkah antisipasi.

Indra mengaku sempat menghubungi layanan PLN 123 dengan nomor pengaduan G5326061921696 untuk meminta penjelasan terkait gangguan tersebut. Namun informasi yang diterimanya justru menyebut lokasi usahanya tidak masuk dalam area pemadaman.

“Ternyata PLN tidak ada komunikasi ke kawasan. Dulu kalau mau padam listrik ada sosialisasinya tapi sekarang tidak ada. Kata PLN wilayah restoran kita ini tidak masuk ke area pemadaman, jadi saya merasa dirugikan,” tuturnya.

Ia berharap PLN ULP Lemahabang dapat memperbaiki sistem komunikasi kepada pelanggan, terutama bagi pelaku usaha yang sangat bergantung pada pasokan listrik untuk menjalankan aktivitas bisnis sehari-hari.

“Sebenarnya PLN ULP Lemahabang ini lebih sosialisasi karna kayak jualan di tenant-nya Jababeka, harusnya kalau ada pemadaman harus ada sosialisasi jadi kita bisa melakukan mitigasi. Dulu ada pemberitahuan sekarang kenapa gak ada, karena kita ada event-event setiap Sabtu-Minggunya,” pungkas Indra.

Tutup