MUI Ajak Santri Berani Lapor Kekerasan Seksual

Kantor MUI

Majelis Ulama Indonesia menekankan pentingnya pendampingan psikologis bagi korban kekerasan seksual, terutama dalam kasus yang terjadi di lingkungan pesantren. Hal itu disampaikan menyusul mencuatnya dugaan kekerasan seksual di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Pati, Jawa Tengah.

Ketua Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga MUI, Siti Ma’rifah, mengatakan proses pemulihan mental atau trauma healing menjadi bagian penting dalam membantu korban kembali menjalani kehidupan secara normal.

“Korban tidak hanya membutuhkan penanganan hukum, tetapi juga pendampingan psikologis agar bisa pulih secara mental dan emosional,” ujar Siti dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).

Menurutnya, dampak kekerasan seksual tidak berhenti pada luka fisik semata. Banyak korban mengalami trauma berkepanjangan, kehilangan rasa aman, hingga kesulitan berinteraksi sosial apabila tidak mendapatkan pendampingan yang tepat.

Siti menjelaskan, Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (KPRK) MUI selama ini telah melakukan berbagai upaya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan keagamaan. Salah satunya melalui roadshow ke sejumlah pondok pesantren di berbagai daerah.

Dalam kegiatan tersebut, KPRK MUI juga mengadakan pelatihan training of trainers (ToT) bagi para pengasuh pesantren. Program itu ditujukan untuk memperkuat sistem pengawasan serta meningkatkan pemahaman tentang perlindungan santri dari berbagai bentuk kekerasan.

“Kami terus mendorong pengelola pesantren agar memiliki sistem pengawasan yang kuat dan mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman bagi santri,” katanya.

Selain memberikan pelatihan kepada pengasuh pesantren, MUI juga mengajak para santri untuk lebih berani berbicara apabila mengalami tindakan kekerasan, pelecehan, maupun intimidasi di lingkungan pendidikan.

Siti menilai keberanian korban untuk melapor menjadi langkah penting agar kasus kekerasan seksual tidak terus berulang dan dapat segera ditangani oleh pihak berwenang.

Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih selektif dalam memilih lembaga pendidikan pesantren. Menurutnya, orang tua perlu memperhatikan rekam jejak pengasuh, sistem pengawasan internal, hingga komitmen lembaga terhadap perlindungan anak dan santri.

“Pesantren harus menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Karena itu, masyarakat perlu memastikan lembaga pendidikan memiliki komitmen kuat terhadap perlindungan santri,” pungkasnya.

Tutup