Trump Klaim Iran Diam-diam Ingin Kesepakatan dengan AS

Donald Trump (Foto: ABC Australia)

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Iran memiliki keinginan untuk mencapai kesepakatan dengan Washington, meski tidak diungkapkan secara terbuka di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Timur Tengah.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam acara penggalangan dana tahunan yang digelar National Republican Congressional Committee pada Rabu (25/3/2026) waktu setempat. Dalam kesempatan itu, ia menilai posisi Iran saat ini berada dalam tekanan.

Menurut Trump, komunikasi menuju kesepakatan sebenarnya sedang berlangsung, namun pemerintah Iran memilih tidak mengakuinya secara publik karena khawatir terhadap reaksi domestik.

“Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka takut mengatakannya karena khawatir akan dibunuh oleh rakyat mereka sendiri. Mereka juga takut terhadap kami,” ujarnya.

Trump juga melontarkan pernyataan bernada kritik terhadap kepemimpinan di Iran. Ia menyindir bahwa posisi sebagai pemimpin negara tersebut bukanlah jabatan yang diinginkan banyak pihak.

Di sisi lain, Trump menegaskan bahwa langkah militer yang dilakukan Amerika Serikat bukan dimaksudkan sebagai perang terbuka, melainkan operasi terbatas untuk menghilangkan ancaman strategis, khususnya terkait potensi pengembangan senjata nuklir oleh Iran.

“Apa yang kami lakukan adalah menghilangkan ancaman besar. Ini adalah operasi militer untuk memastikan keamanan,” katanya.

Ia turut mengklaim bahwa sistem pertahanan Amerika Serikat mampu menggagalkan serangan balasan dari Iran, dengan seluruh rudal yang diluncurkan berhasil dicegat.

Ketegangan di kawasan meningkat sejak akhir Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.400 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah target di Israel serta wilayah negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Hingga saat ini, konflik tersebut juga menimbulkan korban di pihak Amerika Serikat, dengan 13 personel militer dilaporkan tewas dan sekitar 290 lainnya mengalami luka-luka sejak operasi berlangsung.

Tutup