Trump Keluarkan Pernyataan Keras Soal Iran

Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melontarkan pernyataan tegas terkait meningkatnya ketegangan dengan Iran menjelang perundingan penting antara kedua negara.

Pernyataan tersebut disampaikan Trump sebelum bertolak menggunakan Air Force One pada Kamis (10/4/2026). Ia mengklaim bahwa secara militer posisi Iran saat ini berada dalam kondisi lemah.

Pernyataan keras ini muncul di tengah persiapan perundingan antara delegasi Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan berlangsung di Islamabad, Pakistan. Delegasi AS dalam pertemuan tersebut dipimpin oleh Wakil Presiden JD Vance.

Salah satu isu utama yang disorot Trump adalah posisi strategis Selat Hormuz, yang merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan membiarkan Iran menghambat arus pelayaran internasional di kawasan tersebut.

“Selat Hormuz akan segera dibuka, dengan atau tanpa keterlibatan Iran,” tegas Trump di hadapan wartawan.

Trump juga menolak keras segala bentuk pungutan yang diberlakukan Iran terhadap kapal-kapal internasional. Ia bahkan memberi sinyal bahwa opsi militer tetap terbuka jika jalur tersebut terus mengalami gangguan.

Meski demikian, perundingan di Islamabad tetap menjadi jalur diplomatik yang diharapkan mampu meredakan ketegangan. Namun, Trump menegaskan adanya syarat utama yang tidak dapat dinegosiasikan, yakni penghentian total program nuklir Iran.

Sejumlah tuntutan utama yang diajukan Amerika Serikat meliputi larangan pengembangan senjata nuklir oleh Iran, jaminan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, serta penghentian pungutan terhadap kapal komersial internasional.

Pertemuan ini menjadi sorotan global karena dinilai sebagai momentum krusial untuk mencegah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Banyak analis menilai perundingan ini sebagai peluang terakhir sebelum ketegangan meningkat menjadi konflik terbuka.

Namun, sikap tegas Trump yang menyebut Iran “sudah kalah” dinilai mencerminkan posisi tawar yang agresif dari Amerika Serikat. Jika perundingan berakhir tanpa kesepakatan, ancaman intervensi militer terkait Selat Hormuz berpotensi memperburuk stabilitas geopolitik kawasan.

Tutup