Toilet Sekolah Kotor, DPRD Kota Bekasi Desak Gerakan Nasional Kebersihan Fasilitas Pendidikan
Kondisi toilet di sejumlah sekolah negeri di Kota Bekasi menuai sorotan tajam dari Anggota DPRD setempat, Agus S.E., yang menyebut persoalan tersebut bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi telah menjadi isu kesehatan dan pendidikan yang mendesak ditangani secara serius dan menyeluruh.
Dalam pernyataan yang disampaikan Selasa, 5 Juli 2025, Agus yang akrab disapa Agus Boyo mengungkapkan, bahwa keluhan mengenai kebersihan dan kelayakan toilet sekolah telah menjadi suara yang semakin nyaring dari para orang tua dan masyarakat.
“Jangan remehkan toilet sekolah. Ini bukan cuma tempat buang air, tapi bagian integral dari ekosistem belajar anak-anak kita,” ujar Agus.
Menurutnya, banyak toilet sekolah dikeluhkan karena air tidak mengalir, pencahayaan minim, bau menyengat, hingga kondisi yang menyeramkan bagi peserta didik. Hal ini berdampak langsung pada kenyamanan dan bahkan kesehatan siswa, terutama di tingkat dasar.
“Anak-anak bisa menahan buang air karena takut atau jijik. Itu berisiko bagi kesehatan mereka. Kita bicara soal hak dasar anak untuk belajar dalam lingkungan yang bersih dan aman,” katanya.
Agus menilai perbaikan toilet sekolah tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Ia mendorong lahirnya gerakan kolektif yang melibatkan pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, DPRD, hingga partisipasi aktif orang tua siswa.
“Ini soal kolaborasi. Gotong royong kita diuji di sini. Pemerintah daerah harus menganggarkan, DPRD mengawasi, sekolah melaksanakan, dan masyarakat mengawal,” tuturnya.
Politikus PDI Perjuangan itu juga menekankan bahwa pembangunan infrastruktur dasar seperti pencahayaan yang cukup dan ketersediaan air bersih harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan fasilitas sekolah.
“Toilet gelap bukan hanya soal estetika, tapi juga soal keamanan anak. Kalau air tak mengalir, bagaimana mereka menjaga kebersihan diri?” imbuhnya.
Namun, Agus tak hanya berbicara soal fisik toilet. Ia juga menggarisbawahi pentingnya pendidikan karakter melalui budaya bersih sejak dini. Toilet, menurutnya, bisa menjadi ruang awal untuk menanamkan nilai tanggung jawab dan kebersihan pada anak-anak.
“Mendidik anak menjaga kebersihan toilet adalah bagian dari pembentukan karakter bangsa. Itu tak bisa sekali jadi. Harus dibangun terus menerus, dimulai dari rumah, dikuatkan di sekolah,” ucapnya.
Untuk itu, ia menyerukan adanya gerakan nasional kebersihan toilet sekolah, sebuah langkah kolektif yang berkelanjutan dan melampaui sekadar program instan.
“Mewujudkan toilet sekolah yang bersih dan layak adalah investasi untuk generasi masa depan. Ini bukan sekadar proyek pembangunan fisik, melainkan proyek peradaban,” tutupnya.
Agus berharap pemerintah pusat hingga daerah mampu merumuskan kebijakan yang konkret dan terukur, agar setiap anak Indonesia, tak terkecuali di Kota Bekasi, bisa menikmati hak belajar dalam lingkungan yang sehat dan bermartabat.




