Sri Sultan Angkat Bicara soal Keracunan MBG di Kulon Progo

Mobil box pengantar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). (H. Husaini)

Kasus dugaan keracunan massal dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kulon Progo mulai mengarah pada persoalan teknis pengolahan makanan. Hasil investigasi awal Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo menemukan sejumlah dugaan pelanggaran prosedur di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni, Wates, yang berpotensi menjadi penyebab ratusan penerima manfaat mengalami gangguan kesehatan.

Kepala Dinkes Kulon Progo, Susilaningsih, mengatakan tim telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap proses produksi makanan, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan, hingga distribusi menu kepada para penerima manfaat.

Dari hasil penelusuran, menu ayam menjadi fokus utama investigasi. Ayam segar seberat sekitar 249 kilogram diketahui diterima pihak SPPG pada Minggu (19/7/2026) malam sekitar pukul 18.45 hingga 20.00 WIB sebelum diolah untuk kebutuhan distribusi keesokan harinya.

Namun, proses memasak yang berlangsung sejak malam hingga dini hari dinilai menimbulkan jeda waktu terlalu lama sebelum makanan akhirnya dikonsumsi. Kondisi tersebut diduga meningkatkan risiko penurunan kualitas makanan.

“Berdasarkan hasil investigasi, salah satu faktor risiko berasal dari proses pengolahan yang dilakukan sejak malam hingga dini hari sehingga jeda waktu antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi menjadi cukup panjang,” ujar Susilaningsih, Kamis (23/7/2026).

Selain persoalan waktu pengolahan, Dinkes juga menemukan sejumlah catatan terkait penerapan higiene dan sanitasi di dapur SPPG. Meski fasilitas tersebut telah mengantongi Surat Laik Higiene Sanitasi, pemeriksaan masih menemukan beberapa kondisi bangunan yang belum sepenuhnya memenuhi standar.

Tim investigasi juga menelaah rekaman kamera pengawas (CCTV). Dari hasil pemeriksaan, petugas dapur diduga tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai standar operasional prosedur (SOP) saat mengolah makanan.

Hingga Selasa (21/7/2026) pukul 09.30 WIB, jumlah penerima manfaat yang mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan dari SPPG Karangwuni mencapai 150 orang. Mereka terdiri atas siswa sekolah, tenaga pendidik, ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok penerima manfaat lainnya.

Mayoritas korban mengalami nyeri perut, diare, muntah, dan pusing. Berdasarkan analisis Dinkes, gejala rata-rata muncul sekitar 14 jam setelah makanan dikonsumsi, dengan waktu tercepat empat jam dan terlama mencapai lebih dari 32 jam.

Meski jumlah korban cukup banyak, Dinkes memastikan belum ditemukan pasien dengan kondisi dehidrasi sedang maupun berat. Penanganan medis yang diberikan sebagian besar berupa terapi cairan dan pengobatan sesuai gejala yang dialami.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X turut menyoroti pentingnya pengelolaan bahan baku dalam program MBG. Menurutnya, kualitas ayam harus dipastikan sejak sebelum dimasak, termasuk sistem penyimpanannya.

Ia menilai fasilitas penyimpanan seperti freezer memiliki peran penting agar bahan pangan tetap terjaga kualitasnya sebelum diolah dan didistribusikan kepada penerima manfaat.

“Mungkin tidak punya freezer sebagai stok. Kalau dimasak jam dua pagi lalu dimakan pagi, ya bisa saja menimbulkan masalah,” ujar Sri Sultan.

Dinkes bersama instansi terkait masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan untuk memastikan penyebab utama dugaan keracunan. Pemeriksaan tersebut diharapkan menjadi dasar evaluasi menyeluruh terhadap sistem keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

Tutup