Serangan Iran Makin Presisi, Rusia Diduga Pasok Data Target Militer AS

Presiden Rusia Vlamidir Putin - Dok. Kremlin

Eskalasi konflik di Timur Tengah memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Laporan terbaru dari The Washington Post mengungkap bahwa Rusia diduga mulai terlibat secara tidak langsung dengan memberikan data intelijen presisi kepada Iran.

Informasi tersebut disebut mencakup koordinat akurat aset militer milik Amerika Serikat, termasuk lokasi kapal perang dan pesawat tempur yang beroperasi di kawasan Timur Tengah. Data itu diduga membantu Teheran mengidentifikasi target strategis pasukan AS di tengah situasi keamanan yang kian memanas.

Serangan Iran Dinilai Semakin Presisi

Menurut tiga pejabat AS yang berbicara secara anonim kepada Washington Post, bantuan intelijen Rusia mencakup informasi lokasi aset militer Amerika yang sebelumnya tidak diketahui publik. Hal ini dinilai menjadi salah satu faktor di balik meningkatnya akurasi serangan balasan Iran dalam beberapa waktu terakhir.

Dara Massicot, pakar militer dari Carnegie Endowment for International Peace, menilai Iran kini mampu melancarkan serangan yang lebih terarah terhadap radar peringatan dini dan infrastruktur komando militer.

Menurutnya, kemampuan tersebut kemungkinan besar didukung oleh akses terhadap citra satelit Rusia. Selama ini Iran diketahui memiliki keterbatasan dalam teknologi satelit militer, sementara Rusia telah menguji kemampuan pengintaian satelitnya dalam konflik di Ukraina.

Balas Budi Rusia kepada Iran

Sejumlah analis menilai langkah Moskow merupakan bentuk “balas budi” terhadap Iran yang sebelumnya menyuplai drone tempur untuk digunakan Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Selain itu, Rusia juga diperkirakan memiliki kepentingan strategis untuk membuat Amerika Serikat terlibat lebih dalam dalam konflik di Timur Tengah. Dengan meningkatnya ketegangan di kawasan tersebut, perhatian Washington terhadap perang di Ukraina dikhawatirkan akan terbagi.

“Rusia sangat menyadari besarnya bantuan militer Amerika kepada Ukraina. Mereka mungkin melihat ini sebagai kesempatan untuk membalas sekaligus mengalihkan fokus AS,” ujar salah satu pejabat AS yang dikutip Washington Post.

Dampak Serangan Mulai Terlihat

Dampak dari dugaan dukungan intelijen tersebut disebut mulai terasa di lapangan. Laporan menyebutkan fasilitas yang digunakan oleh Central Intelligence Agency di Kedutaan Besar AS di Riyadh dilaporkan hancur akibat serangan presisi.

Selain itu, serangan lain yang terjadi di Kuwait dilaporkan menewaskan enam personel militer Amerika setelah target komando dan kendali militer menjadi sasaran.

Sikap China dan Ukraina

Di tengah meningkatnya tensi, China sejauh ini memilih tidak terlibat secara militer maupun intelijen. Beijing disebut lebih mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan menyerukan penghentian eskalasi.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dilaporkan menawarkan bantuan teknis kepada pemerintahan Donald Trump berupa tenaga ahli untuk membantu Amerika menghadapi ancaman drone Iran.

Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk solidaritas Kyiv terhadap Washington yang selama ini menjadi pendukung utama Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia.

Tutup