Bukan Biaya Sekolah, Kepala BGN Sebut Uang Jajan Jadi Pemicu Anak Putus Sekolah
Pernyataan mengejutkan disampaikan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana saat berbincang dalam podcast Helmy Yahya. Ia mengungkap realitas pahit dunia pendidikan di Indonesia yang selama ini jarang disorot.
Menurut Dadan, banyak anak terpaksa putus sekolah bukan semata karena biaya pendidikan, melainkan karena orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan harian anak saat bersekolah, seperti uang jajan, transportasi, dan makan.
Ia menilai persoalan ini kerap luput dari perhatian publik. Meski pemerintah telah menggratiskan biaya sekolah, beban ekonomi keluarga tidak berhenti pada pembayaran SPP. Dalam praktiknya, anak tetap membutuhkan biaya tambahan agar dapat mengikuti kegiatan belajar dengan layak.
“Di sinilah pentingnya program Makan Bergizi Gratis,” ujar Dadan.
Ia menjelaskan, ketika kebutuhan makan anak di sekolah dapat terpenuhi, satu beban besar keluarga prasejahtera otomatis berkurang. Anak tidak lagi harus membawa uang jajan hanya untuk bertahan hingga jam pulang sekolah.
Dadan menegaskan, bagi keluarga miskin, keputusan anak berhenti sekolah sering kali bukan karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan, melainkan karena keterbatasan ekonomi yang memaksa. Dalam situasi tertentu, orang tua harus memilih antara memenuhi kebutuhan makan keluarga atau menyediakan uang saku anak, dan sekolah kerap menjadi korban.
Karena itu, ia menilai program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar intervensi gizi, tetapi juga strategi konkret untuk menjaga keberlangsungan pendidikan anak. Bahkan, dalam konteks keluarga sangat miskin, memastikan anak bisa makan di sekolah dinilai lebih berdampak langsung dibanding sekadar menggratiskan biaya pendidikan.
Program tersebut diharapkan menjadi jembatan agar anak-anak dari keluarga tidak mampu tetap memiliki alasan kuat untuk datang ke sekolah setiap hari, tanpa menambah beban ekonomi orang tua.





