Prabowo Disebut Butuh Menteri yang Mampu Eksekusi Program

Presiden Prabowo Subianto. Foto: Setpres BPMI

Wacana perombakan Kabinet Merah Putih kembali menjadi perhatian publik seiring meningkatnya tuntutan terhadap efektivitas kinerja pemerintahan. Langkah reshuffle dinilai dapat menjadi instrumen strategis untuk mempercepat pelaksanaan program prioritas sekaligus memperkuat koordinasi antar kementerian.

Pakar Komunikasi Politik dari Universitas Esa Unggul, Syurya Muhammad Nur, menilai evaluasi terhadap jajaran menteri merupakan hal yang wajar dalam sebuah pemerintahan yang tengah menjalankan agenda pembangunan berskala besar.

Menurut Syurya, Presiden Prabowo Subianto membutuhkan pembantu-pembantu yang tidak hanya memiliki kompetensi di bidang teknis, tetapi juga mampu memastikan kebijakan pemerintah berjalan efektif hingga dirasakan masyarakat.

“Reshuffle bukan sekadar hukuman politik, melainkan langkah korektif agar mesin pemerintahan berjalan selaras dengan agenda strategis Presiden,” kata Syurya dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).

Ia menjelaskan, tantangan yang dihadapi pemerintah saat ini semakin beragam. Selain menjaga pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah juga dituntut meningkatkan investasi, memperluas lapangan pekerjaan, serta memperkuat daya saing Indonesia di tengah persaingan global.

Di sisi lain, masyarakat juga mengharapkan komunikasi yang lebih baik dari para pejabat publik. Menurut Syurya, keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya ditentukan oleh substansinya, tetapi juga oleh kemampuan pemerintah menjelaskan tujuan dan manfaat kebijakan tersebut kepada masyarakat.

“Sering kali masalah bukan pada substansi kebijakan, melainkan lemahnya kemampuan pejabat menjelaskan arah kebijakan kepada publik. Di era digital, menteri bukan hanya administrator, tetapi juga komunikator publik,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai evaluasi kabinet perlu mempertimbangkan aspek kinerja sekaligus kemampuan komunikasi publik. Menteri yang mampu bekerja cepat, responsif, dan memiliki kemampuan menjalin komunikasi yang efektif akan lebih mudah mendapatkan dukungan masyarakat.

Dalam pandangannya, sejumlah kementerian berpotensi masuk dalam radar evaluasi apabila Presiden memutuskan melakukan penyegaran kabinet. Beberapa nama yang disebut antara lain Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.

Meski demikian, Syurya menegaskan bahwa tujuan utama reshuffle bukan sekadar mengganti individu yang menjabat. Yang lebih penting adalah memastikan kabinet memiliki kapasitas dan soliditas yang cukup untuk menjalankan visi besar pemerintahan.

“Orientasi reshuffle bukan sekadar pergantian figur, melainkan penguatan kapasitas kabinet. Presiden membutuhkan tim yang solid, cepat, responsif, dan bekerja dalam satu frekuensi dengan agenda besar pembangunan nasional,” pungkasnya.

Tutup