Masker Mahal di Tengah Erupsi Anak Krakatau

Masker/Pixabay

Kenaikan permintaan masker terjadi setelah abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dilaporkan menyebar ke sejumlah wilayah. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat justru mengeluhkan adanya masker yang dijual dengan harga jauh lebih tinggi, bahkan disebut mencapai 10 kali lipat dari harga sebelumnya.

Keluhan mengenai harga masker bermunculan di media sosial. Sejumlah konsumen mengaku mengalami pembatalan pesanan setelah melakukan checkout, sebelum kemudian menemukan produk yang sama kembali dijual dengan harga lebih mahal.

Salah satu pengguna Threads mengaku pesanannya dibatalkan penjual pada pagi hari setelah melakukan pemesanan malam sebelumnya.

“Semalam gw checkout terus tadi pagi dicancel katanya naik harga. Pas lihat harga barunya benar-benar naik 10x lipat,” tulis pengguna tersebut.

Keluhan lain datang dari warga yang tengah mencari masker KF95 dan KF94 untuk mengantisipasi paparan abu vulkanik. Mereka mengaku menemukan perubahan harga ketika hendak menyelesaikan pembayaran.

Pengalaman serupa dialami Tamara (31), warga Depok. Ia mengaku membeli masker KN95 untuk kebutuhan dirinya dan anak-anaknya. Namun, pesanan yang telah dibuat justru dibatalkan oleh penjual.

Setelah kembali mengecek produk dari toko yang sama, Tamara mendapati harga masker telah berubah cukup signifikan.

“Masker yang saya checkout tadi malam jenisnya KN95 untuk dewasa dan untuk anak. Ya, harga tersebut dari toko yang sama kurang lebih naik menjadi 10 kali lipat. Semula harga satuan Rp1.650 setelah dicancel berubah menjadi Rp16.500 per pcs,” ujar Tamara.

Ia mengatakan pembelian masker dilakukan sebagai langkah perlindungan bagi keluarganya menyusul sebaran abu vulkanik. Terlebih, masyarakat di wilayah terdampak sebelumnya telah diimbau menggunakan masker ketika harus melakukan aktivitas di luar ruangan.

Pemerintah Cek Dugaan Kenaikan Harga

Keluhan masyarakat tersebut mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan akan memantau perkembangan harga sekaligus memastikan ketersediaan masker di pasaran.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman mengatakan pihaknya akan meminta keterangan dari para pelaku usaha terkait informasi kenaikan harga masker yang dinilai tidak wajar.

“Besok kami kumpulkan para pelaku usaha untuk mengklarifikasi isu yang beredar dan memastikan tidak melakukan praktik yang merugikan masyarakat,” kata Aji.

Kemenkes juga berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan serta pemerintah daerah untuk memantau kondisi di lapangan. Langkah tersebut sekaligus dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya penimbunan masker maupun praktik perdagangan yang merugikan konsumen.

Koordinasi juga dilakukan dengan sejumlah Dinas Kesehatan di wilayah terdampak, termasuk Lampung dan Banten. Pemerintah memastikan pasokan masker menjadi salah satu hal yang diperhatikan selama kondisi darurat abu vulkanik berlangsung.

Produsen masker juga disebut telah diminta meningkatkan kapasitas produksi untuk mengimbangi lonjakan permintaan masyarakat.

Pemerintah mengingatkan pelaku usaha agar tidak memanfaatkan situasi dengan melakukan penimbunan atau menaikkan harga secara tidak wajar. Jika ditemukan pelanggaran, penindakan dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.

Abu Vulkanik Masih Mengancam

Lonjakan kebutuhan masker tidak terlepas dari aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kembali menjadi perhatian. Sebaran abu vulkanik dilaporkan mencapai sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu.

Kondisi tersebut turut memengaruhi aktivitas masyarakat dan sektor transportasi. Sejumlah bandara bahkan sempat menghentikan operasional penerbangan karena adanya abu vulkanik yang dinilai berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.

Pada Senin (7/9/2026), otoritas menyebut potensi terjadinya erupsi lanjutan masih perlu diwaspadai. Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti perkembangan informasi dari instansi resmi.

Dalam kondisi tersebut, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan yang dianjurkan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan. Pelindung mata juga dapat digunakan untuk mengurangi paparan abu vulkanik.

Pemerintah mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Warga juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan mengikuti arahan resmi terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Di sisi lain, pemerintah memastikan ketersediaan kebutuhan dasar seperti masker tetap menjadi perhatian agar masyarakat tidak semakin terbebani oleh lonjakan harga di tengah kondisi bencana.

Tutup