Masjid di Sleman Yogyakarta Gelar Nobar Film ‘Pesta Babi’

Sebuah masjid di Sleman, Yogyakarta, menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi terbuka film tersebut.
Film dokumenter Pesta Babi kembali menjadi perbincangan publik setelah sebuah masjid di Sleman, Yogyakarta, menggelar acara nonton bareng (nobar) dan diskusi terbuka film tersebut. Dokumenter garapan Dandhy Dwi Laksono bersama Cypri Paju Dale itu sebelumnya ramai disebut kontroversial karena mengangkat isu pembangunan dan kehidupan masyarakat adat di Papua Selatan.

Film ini menyoroti dinamika kehidupan warga adat di wilayah Merauke, Boven Digoel, hingga Mappi. Melalui pendekatan investigatif, Pesta Babi mencoba menggambarkan benturan antara proyek pembangunan skala besar dengan ruang hidup masyarakat lokal yang selama ini bergantung pada tanah adat dan lingkungan sekitar.

Alih-alih menghadirkan hiburan ringan, dokumenter tersebut mengajak penonton mempertanyakan dampak pembangunan terhadap masyarakat asli Papua. Film itu juga menampilkan sisi sosial dan budaya yang jarang terekspos dalam narasi pembangunan nasional.

Sorotan publik semakin besar setelah akun media sosial Masjid Nurul Dshri Deresan, Sleman, mengunggah video suasana nobar film tersebut yang dipenuhi anak muda. Dalam unggahan itu, pihak masjid menyebut diskusi berlangsung hangat dan terbuka.

“Katanya film ‘Pesta Babi’ berbahaya… tapi pas masjid ngadain nobar & diskusi, yang datang malah full anak muda sampai ratusan orang. Bukan cuma nonton, tapi juga pengen denger sudut pandang lain dan ngobrol bareng dengan suasana yang adem,” tulis akun tersebut.

Kegiatan itu pun menuai banyak respons positif dari warganet. Sebagian memuji langkah masjid yang dinilai membuka ruang diskusi publik terhadap isu sosial dan kemanusiaan secara lebih luas.

“Semoga ada kesempatan buat mengunjungi masjid satu ini, harapan aku yang tinggal di Bekasi,” tulis salah satu pengguna media sosial.

Komentar lain juga menilai masjid seharusnya dapat menjadi ruang dialog yang terbuka bagi masyarakat, termasuk untuk membahas persoalan sosial melalui karya film dan diskusi publik.

“Di pelataran itu peradaban bermula. Mengembalikan fungsi masjid sebagaimana mestinya,” tulis warganet lainnya.

Hingga kini, Pesta Babi terus menjadi bahan diskusi di berbagai komunitas, terutama karena keberaniannya mengangkat isu pembangunan, tanah adat, dan suara masyarakat Papua dari perspektif yang berbeda.

Tutup