Macklemore Didepak
Kontroversi politik di panggung musik Amerika Serikat berimbas pada tur Ed Sheeran. Rapper Macklemore dikeluarkan dari rangkaian tur Loop Tour setelah pernyataannya yang mendukung Palestina dalam sebuah konser memicu penolakan dari sejumlah pemilik venue.
Keputusan tersebut muncul setelah penampilan Macklemore di MetLife Stadium, New Jersey, pada 4 September 2026. Dalam konser itu, rapper bernama asli Benjamin Haggerty tersebut menyampaikan dukungan terbuka kepada warga Palestina dan menyerukan kemerdekaan Palestina.
Macklemore juga mengenakan keffiyeh serta menampilkan materi visual terkait Gaza. Ia membawakan lagu “Hind’s Hall”, karya yang sebelumnya ia kaitkan dengan aksi mahasiswa pro-Palestina di Amerika Serikat.
Di hadapan penonton, Macklemore menyampaikan pesan kepada masyarakat di Gaza dan Tepi Barat. Ia juga meneriakkan seruan “Free Palestine” dan menyebut sejumlah wilayah lain dalam orasinya.
“Saya menyerukan: Free Palestine, Free Lebanon, Free Cuba, Kongo, Sudan, Iran,” kata Macklemore dalam pidatonya.
Ia juga mengatakan kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel dan penolakan terhadap apa yang ia sebut sebagai genosida tidak seharusnya disamakan dengan kebencian terhadap komunitas Yahudi.
Pernyataan tersebut kemudian memicu reaksi dari sejumlah kelompok dan pemilik venue. Israeli-American Council sebelumnya meluncurkan petisi yang mendesak agar Macklemore dikeluarkan dari tur Ed Sheeran.
Persoalan Venue Berujung Pencoretan
Persoalan semakin besar setelah sejumlah venue menyatakan tidak bersedia menjadi lokasi konser jika Macklemore tetap menjadi bagian dari tur.
Nama Robert Kraft, pemilik New England Patriots dan Gillette Stadium, turut muncul dalam polemik tersebut. Macklemore menyebut Kraft berperan menggalang pemilik venue lain untuk menolak kehadirannya.
Namun, klaim tersebut berasal dari Macklemore. Dalam pernyataannya, Kraft membenarkan bahwa pihaknya menolak Macklemore tampil di Gillette Stadium, tetapi mengatakan keputusan itu berkaitan dengan pernyataan terbaru Macklemore serta apa yang ia sebut sebagai riwayat retorika dan citra antisemit yang dinilai menyakiti komunitas Yahudi.
Kraft juga menyatakan keputusan tersebut bukan dimaksudkan untuk meniadakan penderitaan warga Palestina atau melarang advokasi untuk mereka. Ia menyatakan keinginannya untuk berdialog langsung dengan Macklemore.
Di sisi lain, Ed Sheeran menegaskan bahwa pencoretan Macklemore bukan keputusan pribadinya. Sheeran mengatakan promotor dan pihak venue menyampaikan bahwa sejumlah konser akan ditarik apabila Macklemore tetap menjadi bagian dari pertunjukan.
Sheeran mengaku telah berupaya mencari jalan keluar dengan berbagai pihak, tetapi keputusan venue dan promotor akhirnya tetap berlaku. Ia juga menyebut kontrak Macklemore berada dengan promotor, bukan dengannya.
Empat Artis Ikut Mundur
Pencoretan Macklemore kemudian memicu efek lanjutan. Empat artis dan kelompok musik yang terlibat dalam rangkaian tur Ed Sheeran menyatakan mundur sebagai bentuk solidaritas.
Finneas, adik Billie Eilish sekaligus musisi yang dijadwalkan menjadi penampil pembuka dalam sejumlah konser Sheeran di Amerika Selatan, mengumumkan pengunduran dirinya. Ia mengatakan seniman seharusnya tidak dibungkam ketika menyuarakan penderitaan kelompok yang tertindas.
Penyanyi asal Irlandia, Aaron Rowe, juga membatalkan keterlibatannya dalam 10 jadwal tersisa tur Amerika Utara.
Band Denmark, Lukas Graham, turut meninggalkan tur. Vokalisnya, Lukas Forchhammer, menyatakan masyarakat seharusnya tetap dapat berbicara mengenai perang, korban sipil, dan penderitaan anak-anak tanpa memandang bendera atau negara asal mereka.
“Money doesn’t give you the right to own the conversation. Nobody’s bank balance should decide who gets to speak or which suffering we’re allowed to acknowledge,” tulis Forchhammer dalam pernyataannya.
Band folk Irlandia Beoga, yang telah bekerja bersama Sheeran selama bertahun-tahun, juga menyatakan mundur dari tur Amerika Serikat. Dengan demikian, seluruh empat penampil pendukung yang dijadwalkan dalam rangkaian tur tersebut telah menarik diri.
Kontroversi ini membuat tur Ed Sheeran memasuki babak baru. Di satu sisi, Sheeran mempertahankan keputusan untuk tetap menjalankan tur dan mengatakan dirinya tidak ingin mengecewakan penggemar maupun kru yang bergantung pada pekerjaan tersebut. Di sisi lain, sejumlah musisi memilih meninggalkan panggung sebagai bentuk protes atas pencoretan Macklemore.
Peristiwa tersebut akhirnya berkembang menjadi perdebatan lebih luas mengenai kebebasan berekspresi seniman, posisi politik musisi, peran pemilik venue, serta pengaruh kepentingan bisnis terhadap pertunjukan musik.



