Investor Waspadai Pelemahan Rupiah dan Tekanan Pasar

Ilustrasi uang.

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan berat dan sempat menyentuh posisi terlemah sepanjang sejarah di kisaran Rp17.600 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan tersebut memicu spekulasi di pasar keuangan bahwa Bank Indonesia akan mengambil langkah agresif melalui kenaikan suku bunga acuan.

Pelaku pasar kini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang digelar pekan ini. Sejumlah analis memperkirakan BI berpotensi menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen guna meredam tekanan terhadap rupiah.

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik, sekaligus menahan potensi arus keluar modal asing di tengah tingginya tingkat suku bunga global.

Tekanan terhadap rupiah disebut berasal dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari faktor global, dolar AS masih menunjukkan penguatan setelah pasar meyakini Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik internasional dan kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di pasar domestik, investor juga mulai berhati-hati menyusul tekanan yang terjadi di pasar saham dan obligasi dalam beberapa pekan terakhir. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih rentan terkoreksi karena pelaku pasar memilih menunggu arah kebijakan Bank Indonesia.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, sebelumnya menegaskan bahwa bank sentral terus melakukan intervensi di pasar valuta asing serta pasar obligasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Menurut Perry, fokus utama kebijakan moneter saat ini tetap diarahkan pada pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

“Fokus utama kebijakan saat ini tetap pada pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional,” kata Perry.

Pelemahan rupiah juga memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat dan investor ritel. Diskusi di media sosial hingga forum investasi ramai membahas dampak tekanan kurs terhadap harga barang impor, biaya energi, hingga potensi kenaikan inflasi.

Sejumlah ekonom menilai tekanan terhadap rupiah kali ini cukup berat karena dipengaruhi faktor global yang sulit dikendalikan pemerintah maupun bank sentral. Oleh sebab itu, arah kebijakan BI dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan menjadi perhatian utama pelaku pasar dan investor.

Tutup