Indonesia Peringkat Kelima ASEAN, Pariwisata Makin Ketat
Persaingan pariwisata di kawasan Asia Tenggara semakin ketat sepanjang 2026. Indonesia masih menjadi salah satu tujuan utama wisatawan internasional, tetapi dari sisi jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), posisinya berada di peringkat kelima ASEAN pada semester pertama tahun ini.
Berdasarkan data kunjungan Januari hingga Juni 2026, Malaysia berada di posisi teratas dengan sekitar 21,12 juta kunjungan wisatawan asing. Thailand menyusul dengan 16,7 juta kunjungan, kemudian Vietnam 12,3 juta dan Singapura sekitar 8,19 juta.
Indonesia mencatat sekitar 7,45 juta kunjungan wisman pada periode yang sama. Angka tersebut menempatkan Indonesia di posisi kelima, tetapi secara tahunan masih tumbuh 5,71 persen dibandingkan semester pertama 2025.
Persaingan tersebut memperlihatkan perubahan peta destinasi wisata di kawasan. Vietnam, misalnya, mencatat pertumbuhan kunjungan sebesar 14,9 persen secara tahunan pada semester pertama 2026 hingga mencapai sekitar 12,3 juta kunjungan.
Salah satu faktor yang mendukung daya saing Vietnam adalah kebijakan visa yang relatif longgar. Negara tersebut memberikan bebas visa hingga 45 hari bagi warga dari 13 negara dan menyediakan e-visa dengan masa tinggal hingga 90 hari untuk warga negara dari seluruh negara dan wilayah.
Malaysia juga mencatat kinerja tinggi dengan dukungan konektivitas penerbangan dan pasar regional. Sebagian besar kunjungan ke Malaysia pada semester pertama 2026 berasal dari negara-negara ASEAN, yang menyumbang sekitar 72,8 persen dari total kunjungan.
Di tengah persaingan tersebut, Bali tetap memiliki daya tarik global yang sangat kuat. Tripadvisor menempatkan Bali sebagai destinasi wisata nomor satu dunia dalam Travelers’ Choice Awards Best of the Best 2026. Penghargaan itu didasarkan pada kualitas dan jumlah ulasan wisatawan selama periode penilaian.
Posisi tersebut menunjukkan bahwa popularitas Bali di mata wisatawan internasional masih tinggi. Namun, reputasi destinasi tidak otomatis menghilangkan berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan, terutama terkait kepadatan wisatawan, infrastruktur, lingkungan, dan tata kelola akomodasi.
Salah satu tantangan yang terus menjadi perhatian adalah pertumbuhan akomodasi berbasis platform digital. Perkembangan vila dan hunian sewa jangka pendek di sejumlah kawasan Bali menimbulkan perdebatan mengenai legalitas usaha, kontribusi pajak, penggunaan lahan, serta persaingan dengan akomodasi yang telah memenuhi ketentuan perizinan.
Persoalan overtourism juga menjadi isu yang perlu dikelola. Kepadatan aktivitas wisata di sejumlah kawasan populer dapat meningkatkan tekanan terhadap jalan, transportasi, air bersih, pengelolaan sampah, hingga lingkungan. Karena itu, pertumbuhan jumlah wisatawan perlu diikuti dengan kemampuan infrastruktur dan tata kelola destinasi.
Dinamika pasar wisatawan juga ikut berubah. Pertumbuhan wisatawan dari kawasan Asia menjadi salah satu perkembangan penting dalam industri pariwisata. Kemenpar mencatat hingga Juli 2026, kunjungan wisman Indonesia mencapai 8,98 juta atau tumbuh 5,23 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kunjungan dari Asia Tenggara bahkan tumbuh 7,32 persen.
Perubahan komposisi pasar tersebut membuat strategi pariwisata Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan destinasi yang sudah populer. Pengembangan konektivitas, diversifikasi destinasi, peningkatan kualitas layanan, serta penguatan promosi ke pasar dengan potensi belanja tinggi menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapi.
Dengan demikian, posisi Indonesia di peringkat kelima ASEAN tidak serta-merta menunjukkan penurunan kinerja pariwisata. Data menunjukkan jumlah kunjungan tetap tumbuh. Namun, capaian tersebut berlangsung ketika negara-negara lain di kawasan juga agresif memperluas pasar dan meningkatkan daya saing destinasi.
Tantangan Indonesia ke depan adalah memastikan pertumbuhan jumlah wisatawan berjalan beriringan dengan kualitas pengalaman, pemerataan manfaat ekonomi, kesiapan infrastruktur, serta keberlanjutan lingkungan. Bali sebagai ikon utama pariwisata Indonesia tetap memiliki daya tarik kuat, tetapi pengelolaan destinasi menjadi faktor penting agar pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan.




