IHSG Anjlok 0,89 Persen, Rupiah Tembus Rp18.083 per Dolar AS
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah bergerak melemah pada perdagangan Selasa (28/7/2026). Tekanan pasar dipengaruhi oleh sentimen eksternal berupa penguatan indeks Dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya perhatian investor terhadap kondisi domestik setelah pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup pada level 6.130 atau turun 55,1 poin setara 0,89 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Aktivitas perdagangan saham tercatat cukup tinggi dengan volume transaksi mencapai 25 miliar saham. Nilai transaksi berada di angka Rp10,8 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1,6 juta kali. Sementara itu, kapitalisasi pasar BEI turun menjadi Rp10.775 triliun.
Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 360 saham mengalami pelemahan, 265 saham menguat, dan 172 saham bergerak stagnan.
Tidak hanya pasar saham, tekanan juga terjadi pada pasar valuta asing. Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah ditutup di level Rp18.083 per Dolar AS atau melemah 74 poin sebesar 0,41 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan Dolar AS terjadi seiring meredanya ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong pelaku pasar kembali memburu aset safe haven.
Menurut Ibrahim, laporan media internasional menyebut Presiden AS Donald Trump menghentikan rencana peningkatan operasi militer terhadap Iran setelah melakukan pembahasan dengan sejumlah penasihat dan pejabat pemerintah.
“AS telah melancarkan serangan terhadap Iran selama 13 hari berturut-turut, sementara Teheran membalas dengan menargetkan pangkalan militer Amerika di negara-negara tetangga,” ujar Ibrahim dalam riset hariannya.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pengunduran diri Perry Warjiyo turut memberikan tekanan terhadap pasar karena memunculkan ketidakpastian selama masa transisi kepemimpinan Bank Indonesia.
“Untuk jangka pendek, kondisi ini meningkatkan ketidakpastian pasar akibat transisi kepemimpinan yang baru di tengah depresiasi nilai tukar Rupiah, derasnya outflow dana asing, serta potensi tren kenaikan suku bunga global,” jelasnya.
Meski demikian, pasar mulai mendapat sentimen positif setelah Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bank Indonesia. Penunjukan tersebut dinilai dapat menjaga kepercayaan pelaku pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter.
“Penunjukan Destry Damayanti memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan,” kata Ibrahim.
Menurutnya, investor kini akan mencermati proses pemilihan Gubernur BI definitif. Sosok yang memiliki kredibilitas serta mampu menjaga independensi bank sentral menjadi faktor penting untuk mempertahankan kepercayaan pasar.
Sementara itu, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menilai pengunduran diri Perry Warjiyo belum memberikan dampak langsung terhadap peringkat utang Indonesia. Namun, perubahan tersebut dinilai tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi persepsi risiko terhadap arah kebijakan ekonomi ke depan.
Sovereign Analyst S&P Global Ratings Rain Yin menyebut perkembangan tersebut berpotensi meningkatkan risiko terhadap prospek kebijakan ekonomi Indonesia.
“Hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara,” ujarnya.
Untuk perdagangan Rabu (29/7/2026), Rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pasar akan menunggu perkembangan terkait transisi kepemimpinan Bank Indonesia serta respons investor terhadap kondisi ekonomi global.




