Desainer Asia Unjuk Karya di Moscow Fashion Week
Moscow Fashion Week menjadi salah satu panggung yang dimanfaatkan desainer independen untuk memperluas pasar dan memperkenalkan identitas karya mereka kepada industri mode internasional. Ajang yang berlangsung selama enam hari pada Oktober ini menghadirkan lebih dari 350 desainer dari berbagai negara.
Desainer dari China, India, Sri Lanka, dan Kazakhstan turut meramaikan peragaan, bersama pelaku industri mode dari Rusia, Eropa, Afrika, Amerika Utara, dan Amerika Latin. Selain menjadi tempat memperkenalkan koleksi terbaru, acara tersebut membuka kesempatan bagi merek yang sedang berkembang untuk menjalin hubungan dengan pembeli, media, serta calon mitra bisnis dari berbagai negara.
Salah satu peserta yang mencuri perhatian adalah KGL, merek asal India milik desainer Kanika Goyal. Namanya tercatat dalam daftar Forbes 30 Under 30, sementara karyanya telah dikenakan sejumlah selebritas, seperti Priyanka Chopra Jonas, Deepika Padukone, dan M.I.A. KGL juga pernah menjalin kolaborasi dengan Adidas Originals.
Melalui koleksi Arc Echo, Goyal mengolah sisa potongan denim menjadi jaket dan celana, serta menghadirkan busana rajut dengan motif menyerupai mozaik. Pendekatan tersebut menunjukkan upaya merek independen untuk menggabungkan eksplorasi desain dengan pemanfaatan material yang sudah tersedia.
Goyal menilai keikutsertaan dalam ajang internasional dapat membantu merek muda menjangkau pasar yang lebih luas tanpa meninggalkan karakter asalnya.
“Bagi sebuah brand muda, eksposur seperti ini dapat membuka peluang kolaborasi yang bermakna, akses ke pasar baru, serta pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana karya mereka diterima di berbagai budaya,” ujar Goyal.
Ia menambahkan, platform seperti Moscow Fashion Week memberikan kesempatan bagi desainer untuk membangun pengakuan internasional sekaligus mempertahankan identitas lokal dalam karya mereka.
Dari Sri Lanka, Limak by Kamil milik Kamil Hewavitharana menghadirkan koleksi yang mengangkat teknik batik. Motif tradisional yang dirancang khusus dipadukan dengan sutra, renda, organza, dan jacquard. Perpaduan tersebut menghasilkan busana dengan siluet modern, detail terstruktur, serta sentuhan akhir yang dikerjakan secara manual.
Sementara itu, merek asal China, Momiwei, menjalani debutnya di panggung mode internasional dengan dukungan China Fashion Week. Merek yang memiliki pelanggan seperti Fan Bingbing dan Gillian Chung tersebut memperkenalkan koleksi Light Sequence.
Koleksi itu menjadikan cahaya sebagai simbol kebangkitan dan kekuatan batin perempuan modern. Material beludru dan asetat dipadukan dengan Xiangyunsha, kain sutra tradisional China yang diproduksi secara manual dan memiliki karakter tekstur alami.
Sejumlah desainer Rusia juga memanfaatkan ajang tersebut untuk memperkenalkan pendekatan kreatif mereka. Ianis Chamalidy, yang pernah mengikuti kegiatan showroom di China Fashion Week pada 2024, menampilkan koleksi Via Lucis dengan mengolah potongan film menjadi material tekstil untuk aksesori penutup kepala dan tas.
Brand Za_Za, yang sebelumnya tampil di Lakmé Fashion Week India pada 2025, membawa koleksi Life Cycles ke Moskow. Koleksi tersebut mengeksplorasi perubahan fase kehidupan melalui garis-garis mengalir, bentuk geometris, dan potongan asimetris.
Eksplorasi identitas juga menjadi tema koleksi Incognito dari Ónoma. Merek Rusia yang memasarkan produknya di Kazakhstan itu dikenal melalui gaun berbahan jaring ringan dengan aplikasi dekoratif dan sulaman tali. Dalam koleksi terbarunya, lapisan busana transparan digunakan untuk menggambarkan seorang perempuan yang berusaha menemukan jati diri di tengah derasnya arus kehidupan digital.
Bagi desainer lokal Rusia, Moscow Fashion Week juga menjadi ruang untuk mengukur respons pasar terhadap koleksi terbaru. Alena Musaeva, misalnya, menampilkan kemeja, rok renda, dan gaun musim panas yang mengambil inspirasi dari cerita rakyat Rusia. Ia menyebut keikutsertaannya dalam ajang tersebut membantu memperluas basis pelanggan.
Edder turut memanfaatkan kesempatan itu untuk memperkenalkan lini busana resor perdananya. Koleksinya terdiri atas setelan berpotongan longgar dan kemeja kasual yang dirancang untuk menghadirkan gaya santai.
Pihak Edder menilai peragaan mode dapat menjadi sarana untuk menguji gagasan baru sekaligus memperoleh masukan dari para profesional industri.
“Peragaan ini menjadi wadah untuk menguji ide dan koleksi baru. Kami dapat melihat respons dari komunitas profesional industri mode, sekaligus mendapatkan motivasi baru untuk mengembangkan desain dan bereksperimen dengan berbagai bentuk,” ungkap pihak Edder.
Peluang bagi Industri Mode Indonesia
Perkembangan para desainer Asia di panggung internasional menjadi relevan bagi Indonesia, yang memiliki kekayaan tradisi kerajinan, material lokal, serta industri manufaktur berorientasi ekspor. Tantangannya tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga bagaimana mengemas keunggulan tersebut menjadi identitas merek yang mampu bersaing di pasar global.
Isu tersebut turut mengemuka dalam BRICS+ Fashion Summit yang diselenggarakan bersamaan dengan Moscow Fashion Week. Salah satu perwakilan industri Indonesia yang hadir adalah Rizal Tanzil Rakhman, Government Relation and Sustainability Executive di PT Pan Brothers Tbk.
Menurut Rizal, industri mode Indonesia perlu mengembangkan cara untuk mengangkat kekayaan sumber daya lokal menjadi produk dan cerita merek yang memiliki daya tarik bagi konsumen internasional.
Ia menilai keikutsertaan dalam ajang mode global dapat menjadi salah satu jalan bagi desainer Indonesia untuk memperluas jangkauan pasar dan membangun hubungan dengan pelaku industri di luar negeri.
“Berpartisipasi dalam Moscow Fashion Week dapat menjadi platform penting untuk membawa karya desainer Indonesia ke pasar internasional. Lebih dari sekadar tampil di panggung peragaan, ajang ini dapat membantu desainer Indonesia membangun visibilitas di kalangan pembeli internasional, media, distributor, komunitas kreatif, dan calon mitra bisnis,” ujar Rizal.
Peluang tersebut menunjukkan bahwa partisipasi dalam ajang mode internasional tidak hanya berkaitan dengan presentasi koleksi, tetapi juga strategi membangun jaringan, memperkuat identitas merek, dan membuka akses menuju pasar baru. Bagi Indonesia, perpaduan antara kekayaan budaya, kreativitas desain, dan kapasitas produksi dapat menjadi modal untuk meningkatkan daya saing industri mode di tingkat global.



