Daging Sapi Siap Potong Makin Langka, Ini Penyebabnya
Persediaan sapi siap potong di Indonesia mulai mengalami tekanan. Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin parah hingga stok sapi yang dapat segera dipotong berpotensi habis pada November 2026.
Ketua Umum Jaringan Pemotong dan Pedagang Daging Indonesia (JAPPDI) Asnawi mengatakan, keterbatasan pasokan saat ini sudah terlihat mulai dari tingkat peternak hingga pasar. Pulau Jawa menjadi salah satu wilayah yang paling merasakan kondisi tersebut.
Menurut Asnawi, sapi yang masih berada di kandang sebagian besar belum masuk kategori siap potong. Hewan yang tersedia mayoritas berupa pedet dan sapi remaja sehingga membutuhkan waktu tambahan untuk mencapai bobot yang layak dipotong.
“Yang tersisa di kandang umumnya hanya pedet atau sapi remaja yang butuh waktu lama untuk digemukkan, minimal 3 bulan. Itu pun akan tetap membutuhkan biaya,” ujar Asnawi, dikutip Selasa (1/9/2026).
Di sisi lain, tingginya biaya pengadaan turut menjadi tantangan bagi pelaku usaha. Asnawi menyoroti perbedaan asumsi nilai tukar yang digunakan pemerintah dalam perhitungan impor dengan kondisi kurs dolar AS di pasar.
Pemerintah disebut menggunakan asumsi kurs sebesar Rp16.500 per dolar AS. Sementara itu, nilai tukar dolar AS di pasar telah berada di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000.
Tekanan terhadap biaya pengadaan juga diperbesar oleh kondisi geopolitik global. Konflik di kawasan Timur Tengah serta kenaikan harga bahan bakar minyak dinilai ikut meningkatkan biaya yang harus dikeluarkan untuk mendatangkan sapi.
Akibatnya, harga pokok pembelian (HPP) riil di tingkat importir disebut telah mencapai sekitar Rp71.000 per kilogram (kg) timbang hidup.
Angka tersebut terpaut cukup jauh dari Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp59.500 per kg timbang hidup.
Kesenjangan antara biaya pengadaan dan harga acuan tersebut menjadi salah satu persoalan yang dihadapi pelaku usaha di tengah semakin terbatasnya ketersediaan sapi siap potong.



