Cerita Wamen Stella dari Program Sosial di Harvard
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie membagikan kisah personal yang membekas selama menempuh pendidikan di Harvard University. Bukan soal prestasi akademik, pengalaman paling berkesan justru datang dari keterlibatannya dalam kegiatan sosial di luar ruang kelas.
Pengalaman tersebut mempertemukannya dengan Natalie Portman, yang saat itu masih berstatus mahasiswa psikologi di kampus yang sama. Pertemuan itu terjadi dalam sebuah program komunitas bernama City Step, yang berfokus pada pengabdian mahasiswa kepada masyarakat.
Stella menjelaskan, program tersebut tidak bisa diikuti sembarang mahasiswa. Peserta harus melalui proses seleksi dan audisi sebelum akhirnya dipercaya menjadi bagian dari tim pengajar.
“Program ini dirancang untuk mahasiswa terpilih yang kemudian turun langsung ke masyarakat, khususnya untuk mendampingi siswa sekolah dasar,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, para mahasiswa bertugas menyusun materi kreatif, termasuk koreografi tari, yang kemudian diajarkan kepada anak-anak selama periode tertentu. Hasil pembelajaran tersebut ditampilkan dalam sebuah pertunjukan di akhir program.
Menurut Stella, pengalaman ini menjadi sangat berarti karena ia berkesempatan bekerja langsung dengan Natalie Portman. Keduanya tergabung dalam tim yang sama sebagai pengajar sekaligus koreografer.
“Kami rutin bertemu setiap minggu untuk merancang koreografi bagi siswa. Itu menjadi salah satu pengalaman yang paling saya ingat selama di Harvard,” ungkapnya.
Interaksi tersebut bukan hanya memperkaya pengalaman akademik, tetapi juga memperluas perspektif sosial. Stella menilai pendekatan pendidikan di Harvard memang dirancang untuk membentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat.
Ia menekankan bahwa pendidikan tidak hanya soal teori, tetapi juga tentang keterlibatan nyata dalam kehidupan sosial. Melalui program seperti City Step, mahasiswa didorong untuk memberi dampak langsung bagi lingkungan sekitar.
Kuasa Usaha Ad Interim Misi Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter Haymond, turut menegaskan bahwa pendekatan tersebut merupakan bagian integral dari sistem pendidikan di Amerika Serikat.
“Mahasiswa didorong untuk terlibat langsung dengan masyarakat dan membantu generasi muda memiliki pandangan yang lebih luas tentang masa depan,” jelasnya.
Stella menambahkan, banyak siswa yang terlibat dalam program tersebut berasal dari latar belakang kurang beruntung. Kehadiran mahasiswa Harvard memberi mereka motivasi dan kepercayaan diri untuk bermimpi lebih tinggi.
“Anak-anak itu akhirnya bisa tampil di Harvard. Itu bukan sekadar pertunjukan, tapi pengalaman yang membuka harapan baru bagi mereka,” tutup Stella.





