Bisnis AI dan Cloud Dorong Saham Nokia

ilustrasi AI.

Saham Nokia kembali mencatat penguatan di Bursa Helsinki setelah sebelumnya melonjak lebih dari 9 persen. Kinerja tersebut didorong optimisme investor terhadap prospek bisnis perusahaan di sektor infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan.

Pada perdagangan Kamis (13/8/2026), saham Nokia ditutup di level 9,31 euro. Harga tersebut naik 0,30 euro atau 3,31 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di 9,01 euro.

Sepanjang perdagangan, saham perusahaan jaringan telekomunikasi asal Finlandia itu sempat menyentuh level tertinggi 9,48 euro dan terendah 8,88 euro.

Penguatan tersebut melanjutkan kenaikan tajam sehari sebelumnya. Pada Rabu (12/8/2026), saham Nokia melonjak 9,27 persen dari 8,22 euro menjadi 9,01 euro.

Sentimen positif investor salah satunya berasal dari kinerja keuangan Nokia pada kuartal II 2026. Laba per saham atau earnings per share (EPS) tercatat 0,07 euro, meningkat dari 0,04 euro pada periode yang sama tahun sebelumnya sekaligus melampaui ekspektasi 0,05 euro.

Pendapatan perusahaan juga tumbuh 8 persen secara tahunan menjadi 4,815 miliar euro. Sementara itu, laba operasi comparable meningkat 18 persen menjadi 434 juta euro.

Kinerja tersebut membuat Nokia menaikkan proyeksi laba operasi comparable 2026 menjadi 2,1 miliar-2,6 miliar euro. Sebelumnya, perusahaan memperkirakan laba operasi comparable berada di kisaran 2 miliar-2,5 miliar euro.

Bisnis AI dan Cloud Jadi Perhatian

Prospek bisnis AI dan cloud menjadi salah satu faktor utama yang menarik perhatian investor. Nokia mencatat pesanan sekitar 2,8 miliar euro dari segmen tersebut, dengan penjualan yang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebagian pesanan jaringan jangka panjang tersebut diperkirakan mulai memberikan kontribusi terhadap pendapatan perusahaan dalam 12 bulan ke depan.

Nokia juga memperluas pengembangan teknologi AI-RAN bersama Nvidia. Teknologi tersebut dirancang untuk mengintegrasikan kemampuan AI ke dalam jaringan radio dan berpotensi membuka peluang baru bagi bisnis perangkat lunak serta jaringan dengan margin lebih tinggi.

Optimisme terhadap prospek Nokia turut tercermin dari sejumlah analis yang menaikkan target harga maupun rekomendasi terhadap saham perusahaan, termasuk Bank of America dan SEB Equities.

Meski prospeknya semakin menarik, Nokia masih menghadapi sejumlah tantangan. Kelangkaan chip memori berpotensi mengganggu kemampuan perusahaan memenuhi permintaan dari sektor AI dan cloud.

Di sisi lain, bisnis telekomunikasi tradisional masih menghadapi tekanan karena belanja modal operator seluler belum sepenuhnya kembali pulih.

Karena itu, investor kini akan mencermati kemampuan Nokia mengubah lonjakan pesanan di sektor AI dan cloud menjadi pertumbuhan pendapatan dan laba yang berkelanjutan.

Tutup