Disrupsi Informasi Tak Bisa Dihindari
Oleh: Sony Fitrah Perizal
Penulis adalah Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat
ERA digital menghadirkan berbagai kemudahan dan tumbuhnya sektor ekomomi baru. Hanya saja, revolusi tersebut diikuti oleh salah satu dampak ikutan yang bisa merugikan banyak pihak, yaitu disrupsi informasi.
Disrupsi informasi terjadi karena akses berita dan informasi menjadi sangat mudah dan instan.
Namun, kemudahan ini juga melahirkan tantangan baru, yakni banjir informasi yang tidak selalu akurat dan terpercaya.
Maraknya hoaks, misinformasi, dan disinformasi dapat membingungkan publik, memicu keresahan bahkan bisa berujung pada konflik horisontal. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memilah informasi yang benar dan terpercaya.
Biar kita terap waras dan tak tersesat saat kebanjiran informasi, berikut beberapa tips yang bisa anda lakukan dalam memilah informasi:
Pertama, cek kredibilitas sumber. Pastikan informasi berasal dari sumber terpercaya, seperti media massa yang sudah terverifikasi Dewan Pers, situs web resmi, atau jurnalis kredibel.
Ada baiknya, periksa tanggal publikasi untuk memastikan informasi yang kita terima tidak outdated.
Kedua, Baca semua berita yang kita terima dengan seksama, jangan hanya hanya judul atau headline saja. Pastikan informasi yang kita baca benar-benar berdasarkan fakta dan data, bukan opini atau spekulasi. Akan lebih afdol jika kita memverifikasi berita tersebut, membandingkannya dengan sumber lain.
Ketiga, penting setiap orang selalu menggunakan akal sehat. Biasanya, informasi yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan adalah hoaks. Disisi lain, waspadai teknik-teknik clickbait dengan menghindari klik tautan yang menjanjikan sesuatu yang sensasional atau provokatif.
Kalau perlu, segera lapor kepada pihak berwenang atau atau lembaga resmi jika menemukan hoaks.
Keempat, biasakan berpikir kritis serta tak mudah percaya dengan informasi yang diterima. Selalu analisa dan kaji kebenaran berita yang diterima.
Akan lebih baik jika kita mengedukasi diri dengan mempelajari cara mengidentifikasi hoaks dan misinformasi.
Kelima, lakukan counter Hoax dengan membagikan informasi yang benar kepada orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita bergabung dengan komunitas yang konsern pada gerakan literasi digital dan anti-hoaks.
Semoga dengan menerapkan tips-tips di atas, anda bisa jadi individu yang berperan aktif membantu memerangi disrupsi informasi dan membangun masyarakat yang lebih cerdas dan kritis.[R]
Penulis adalah Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Jawa Barat





