Film Desember Jani Bawa Cerita Keluarga Indonesia ke Jepang

Desember Jani.

Film “Desember Jani” (Jani Be Good) menarik perhatian penonton Jepang saat diputar dalam ajang Tokyo International Film Festival 2026. Kisah tentang dinamika keluarga yang melibatkan tiga generasi perempuan di Bandung itu memunculkan rasa ingin tahu, terutama mengenai kehidupan dan tradisi Natal di Indonesia.

Berlatar empat hari pada Desember menjelang Natal, film ini mengikuti perjalanan batin Jani, seorang anak perempuan berusia 13 tahun. Cerita bermula ketika Jani mendengar pertengkaran antara kakaknya, Julia (Hyori Mika), dan ibunya, Winnie (Sigi Wimala). Keesokan harinya, Julia pergi tanpa memberi kabar.

Jani kemudian diam-diam mengirim pesan kepada Julia hingga akhirnya harus berhadapan dengan Winnie. Di tengah persoalan keluarga tersebut, ia menemukan ketenangan saat bersama Oma (Tutie Kirana), neneknya yang tengah menabung untuk biaya pemakamannya sendiri.

Winnie digambarkan sebagai ibu tunggal yang menjadi tulang punggung keluarga. Namun, tekanan yang dihadapinya membuat Winnie semakin mudah kehilangan kesabaran di rumah. Sementara itu, Jani menyimpan kemarahan dan berusaha memahami situasi yang terjadi di keluarganya.

Suasana Natal dalam film ini turut menjadi bahan pertanyaan penonton Jepang. Berbeda dengan gambaran Natal di Jepang yang identik dengan salju, lampu hias, dan kemeriahan musim dingin, perayaan dalam film tersebut terlihat lebih sederhana. Pilihan busana para pemain yang menyerupai pakaian musim panas juga memperlihatkan karakter iklim tropis Indonesia.

Menanggapi pertanyaan itu, sutradara Ariani Darmawan menjelaskan bahwa cerita mengambil latar Bandung, kota yang memiliki suhu lebih sejuk dibandingkan Jakarta. Melalui film tersebut, ia ingin memperlihatkan suasana perayaan Natal di Indonesia.

Bagi penonton Indonesia, identitas Bandung terlihat cukup kuat melalui dialek Sunda para pemain, jajanan kaki lima, hingga suasana jalan di kawasan perumahan. Kota yang juga merupakan kampung halaman Ariani itu menjadi bagian penting dari latar cerita.

Film ini masuk dalam program Asian Future Competition di Tokyo International Film Festival 2026. Setelah dua kali pemutaran, Ariani bersama produser Meiske Taurisia mengikuti diskusi singkat dan menjawab sejumlah pertanyaan dari penonton.

Dalam kesempatan tersebut, Ariani menekankan bahwa film ini tidak berangkat dari upaya menentukan siapa yang benar atau salah dalam sebuah keluarga. Menurutnya, hal terpenting adalah bagaimana setiap anggota keluarga dapat kembali menemukan jalan untuk saling memahami.

“Saya ingin menunjukkan bahwa tidak ada yang salah dan benar, yang penting adalah menyatukan keluarga,” kata Ariani saat menyapa penonton.

Ariani mengaku senang karena filmnya mendapat sambutan hangat di Jepang. Ia menilai, meskipun penonton berasal dari latar budaya yang berbeda, persoalan keluarga yang diangkat dalam cerita tetap dapat dipahami secara luas.

“Dari awal, kan, ini pasti ceritanya personal ya. Maksudnya hal yang personal terjadi di keluarga tertentu. Tapi juga universal sih memang sebetulnya karena kan semua orang punya keluarga. Semua orang pernah jadi anak,” ujar Ariani.

Berita Lainnya

Tutup