Distrik Tegal Gede, 24 Jam Menjaga Objek Vital Nasional Jawa Barat

Petugas Stasiun Kompresor Gas (SKG) Tegal Gede di Kabupaten Bekasi sedang koordinasi monitoring.

Jaringan pipa gas yang membentang dari Cirebon hingga Cilegon memiliki peran penting dalam menopang kegiatan industri di Jawa bagian barat. Melalui jaringan sepanjang 606 kilometer ini, gas disalurkan untuk memenuhi kebutuhan sejumlah sektor, mulai dari industri pupuk, pembangkit listrik, kilang minyak, hingga bahan bakar gas untuk transportasi.

Operasional jaringan tersebut berlangsung sepanjang waktu. Di sejumlah titik, petugas dan operator bergantian menjalankan tugas untuk memastikan distribusi gas tetap berjalan sesuai kebutuhan pelanggan.

Jaringan transmisi gas ini dikelola PT Pertamina Gas (Pertagas) Operation West Java Area (OWJA). Pipa induknya telah dibangun sejak 1975 dan hingga kini masih menjadi bagian penting dari infrastruktur penyaluran gas di wilayah Jawa bagian barat.

Salah satu fasilitas yang berperan dalam menjaga kelancaran distribusi tersebut adalah Stasiun Kompresor Gas (SKG) Tegal Gede di Kabupaten Bekasi. Di lokasi ini, Fari Akhdiar Rachmad menjalankan tugas sebagai Kepala Distrik PT Pertamina Gas WJA bersama tim operasionalnya.

Setiap hari, mereka memantau kondisi jaringan dan memastikan tekanan gas tetap sesuai dengan kebutuhan penyaluran dari sumber pasokan hingga pelanggan di wilayah barat.

“Gas ini mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Di sepanjang Cirebon sampai Cilegon ada lima area operasi dengan turbin kompresor yang menaikkan pressure agar gas bisa sampai ke konsumen di ujung barat,” jelas Fari dalam sebuah kesempatan temu media.

Operasional Berjalan Sepanjang Waktu

Bagi pengelola jaringan transmisi gas, keberlangsungan operasional menjadi hal yang tidak bisa ditawar. Distribusi harus tetap berlangsung, termasuk pada malam hari, akhir pekan, maupun hari libur.

Fari menjelaskan, kegiatan operasional di jaringan OWJA berlangsung selama 24 jam setiap hari.

“Kami operasionalkan setiap hari, tujuh kali dua puluh empat jam. Kami tidak tutup,” ujarnya.

Keberlangsungan distribusi tersebut berkaitan langsung dengan kebutuhan pelanggan. Gas yang disalurkan melalui jaringan ini digunakan oleh berbagai sektor strategis. Gangguan pasokan dapat memengaruhi kegiatan produksi industri, operasional pembangkit listrik, hingga aktivitas kilang minyak.

Karena itu, jaringan transmisi gas tersebut masuk dalam kategori objek vital nasional. Pengelolaannya membutuhkan pengawasan dan pemeliharaan secara berkelanjutan untuk menjaga keandalan infrastruktur.

Pasokan gas yang dialirkan melalui jaringan OWJA juga berasal dari beberapa sumber. Di antaranya sumur Pertamina EP di sekitar Subang, fasilitas regasifikasi LNG Nusantara Regas, wilayah lepas pantai PHE ONWJ, serta pasokan dari Sumatra melalui jaringan pipa Sumatra–Jawa.

Dengan sumber pasokan yang beragam, distribusi gas dapat memenuhi kebutuhan pelanggan di berbagai wilayah operasional.

Melayani 48 Pelanggan Utama

Saat ini, jaringan OWJA melayani sekitar 48 offtaker utama. Pelanggannya berasal dari berbagai sektor, termasuk industri pupuk, pembangkit listrik, kilang minyak, dan perusahaan perdagangan gas.

Beberapa di antaranya adalah Pupuk Kujang di Cikampek, pembangkit listrik PLN, Refinery Unit IV Balongan, serta sejumlah trader gas yang menyalurkan gas ke kawasan industri di Bekasi dan Tangerang.

Selain itu, jaringan ini juga memasok kebutuhan CNG plant dan SPBG. Gas yang disalurkan melalui fasilitas tersebut antara lain digunakan untuk mendukung operasional armada bus Transjakarta.

Menurut Fari, banyaknya pelanggan yang dilayani membuat pengelolaan jaringan membutuhkan koordinasi dan pengawasan yang konsisten. Setiap pelanggan memiliki kebutuhan pasokan yang harus dipenuhi sesuai perencanaan distribusi.

“Jaringan ini objek vital nasional. Kami harus menjamin pasokan kepada pelanggan dan industri-industri strategis yang menjadi prioritas pemerintah,” tegasnya.

Keandalan penyaluran gas menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung kegiatan industri dan pelayanan publik. Oleh sebab itu, pemantauan kondisi jaringan dan fasilitas kompresor menjadi bagian dari pekerjaan rutin tim operasional.

Lingkungan dan Keselamatan Menjadi Perhatian

Selain menjaga kelancaran penyaluran gas, OWJA juga menjalankan program pengelolaan lingkungan dan keselamatan kerja.

Dalam bidang lingkungan, perusahaan mencatat dua kali penghargaan PROPER Emas, delapan kali Kandidat Emas, dan 13 kali PROPER Hijau dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Capaian tersebut menjadi bagian dari evaluasi terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan di lingkungan operasional perusahaan.

Di sisi keselamatan kerja, OWJA mencatat 28 juta jam kerja selamat hingga 30 Juni 2026. Pencapaian ini berkaitan dengan penerapan prosedur keselamatan dan kedisiplinan pekerja dalam menjalankan aktivitas operasional.

“Kami berkomitmen terhadap lingkungan. Ini bukan sekadar kewajiban, tapi bagian dari cara kami bekerja,” ujar Fari.

Dalam kegiatan pengelolaan jaringan gas, aspek keselamatan menjadi perhatian penting karena pekerjaan dilakukan pada fasilitas bertekanan tinggi dan melibatkan peralatan dengan tingkat risiko tertentu.

Karena itu, setiap aktivitas operasional membutuhkan kepatuhan terhadap prosedur kerja, pemeriksaan peralatan, serta koordinasi antarpersonel.

Bergantian Menjaga Operasional

Di SKG Tegal Gede, kegiatan operasional terus berlangsung hingga pergantian shift. Operator yang bertugas melakukan pemantauan terhadap kondisi fasilitas dan parameter operasi sebelum menyerahkan tanggung jawab kepada petugas berikutnya.

Pekerjaan seperti ini mungkin tidak banyak terlihat oleh masyarakat. Namun, pengawasan terhadap jaringan dan fasilitas kompresor menjadi bagian penting dalam memastikan gas tetap tersalurkan kepada pelanggan.

Jaringan sepanjang 606 kilometer itu akan terus beroperasi dengan dukungan para pekerja yang menjalankan tugasnya secara bergantian. Dari fasilitas seperti SKG Tegal Gede, mereka memastikan proses penyaluran gas tetap berjalan sesuai kebutuhan pelanggan.

Berita Lainnya

Tutup