Harga Minyak Dunia Naik, Brent Tembus US$110 per Barel
sebut menambah ketidakpastian mengenai perkembangan konflik dan dampaknya terhadap pasokan minyak. Pasar energi sangat memperhatikan situasi di Timur Tengah karena kawasan tersebut merupakan salah satu pusat utama produksi dan perdagangan minyak dunia.
Apabila ancaman terhadap infrastruktur energi dan kapal tanker terus meningkat, biaya pengangkutan serta risiko keterlambatan pasokan berpotensi ikut bertambah. Kondisi itu dapat mendorong harga minyak tetap berada di bawah tekanan kenaikan.
Stok Minyak AS Turun Lebih Besar dari Perkiraan
Selain faktor geopolitik, pergerakan harga minyak turut dipengaruhi data persediaan energi Amerika Serikat.
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan stok minyak mentah Negeri Paman Sam turun 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan sebelumnya.
Penurunan tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters, yang memproyeksikan persediaan berkurang sekitar 820.000 barel. Penyusutan stok menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar ketika menilai keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
Di sisi lain, pemerintah AS berupaya meredam tekanan harga bahan bakar dengan menawarkan pinjaman hingga hampir sepertiga dari cadangan darurat minyak pemanas nasional yang berjumlah 1 juta barel.
Langkah tersebut ditempuh di tengah tingginya harga diesel yang berkaitan dengan konflik di Iran dan Ukraina. Meski demikian, kebijakan pemanfaatan cadangan tersebut belum menghilangkan risiko yang bersumber dari gangguan pasokan dan jalur distribusi energi.
Pergerakan harga minyak selanjutnya akan dipengaruhi perkembangan keamanan di Timur Tengah, kelancaran pelayaran kapal tanker, serta perubahan persediaan dan permintaan global. Selama risiko terhadap infrastruktur energi dan pengiriman minyak masih tinggi, pasar diperkirakan tetap mencermati kemungkinan terjadinya gangguan pasokan.




