Rara Pawang Hujan Buka Suara usai Dicari Warganet di Tengah Karhutla

Rara pawang hujan dirindukan di MotoGP Portugal 2022. (Foto/Dorna Sports)

Nama Rara Istiati Wulandari atau Rara Pawang Hujan kembali menjadi perbincangan warganet di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah. Menanggapi perhatian tersebut, Rara menjelaskan alasan dirinya belum bersedia datang langsung ke lokasi kebakaran pada 2026.

Melalui unggahan di Instagram, Rara menyebut dirinya pernah terlibat dalam upaya penanganan karhutla pada 2015, 2019, dan 2023. Ia mengatakan, keterlibatan saat itu dilakukan dengan adanya jaminan keamanan serta dukungan kebutuhan selama menjalankan aktivitasnya di lapangan.

Namun, untuk situasi karhutla tahun ini, Rara mengisyaratkan tidak akan turun langsung seorang diri tanpa kepastian mengenai keselamatan dirinya.

“Di era sekarang pemerintahan hanya mau OMC aja jadinya ya sudah aku gak mau ke lokasi sendiri tanpa jaminan keselamatan diriku lahir batin,” tulis Rara dalam unggahannya.

OMC yang dimaksud adalah Operasi Modifikasi Cuaca, metode yang dapat digunakan untuk mendukung upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, termasuk karhutla. Pelaksanaannya bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang memenuhi persyaratan teknis.

Rara menegaskan, keputusannya untuk tidak mendatangi lokasi kebakaran bukan berarti dirinya tidak peduli terhadap kondisi di Kalimantan. Ia mengaku tetap melakukan doa dan meditasi dari jarak jauh dengan harapan hujan turun di wilayah terdampak.

Ia juga menanggapi anggapan bahwa dirinya tidak pernah membantu penanganan karhutla di Kalimantan. Rara kembali merujuk pada keterlibatannya dalam kegiatan serupa pada 2015, 2019, dan 2023, ketika ia menyebut mendapat dukungan keamanan serta kebutuhan selama berada di lokasi.

“Aku udah bilang udah pernah bantu karhutla 2015,2019,2023 ke lokasi di era alm Jendral Purn. TNI. Doni Monardo. Diberikan garansi keamanan & ketenangan kebutuhan buatku doa meditasi kolaborasi dg OMC,” tulisnya.

Pernyataan tersebut menjadi respons Rara terhadap warganet yang menantikan kemunculannya di tengah karhutla. Ia menyampaikan bahwa keselamatan dan kepastian dukungan menjadi pertimbangan sebelum memutuskan terlibat langsung di lapangan.

Meski demikian, doa dan meditasi yang disebut dilakukan dari jarak jauh merupakan upaya personal yang disampaikan Rara. Efektivitasnya dalam mengatasi karhutla tidak dapat disamakan dengan metode penanganan teknis, seperti pemadaman langsung, pengelolaan lahan, dan operasi modifikasi cuaca yang dilakukan berdasarkan kajian serta kondisi meteorologis.

Tutup