Cabai Rawit Merah di Bandung Naik, Tembus Rp100 Ribu
Harga cabai rawit merah di sejumlah pasar Kota Bandung melonjak dalam beberapa hari terakhir. Di Pasar Kosambi, harga komoditas tersebut bahkan mencapai Rp100.000 per kilogram, naik sekitar Rp40.000 dari harga sebelumnya yang berada di kisaran Rp60.000 per kilogram.
Pedagang sayur di Pasar Kosambi, Eli Anita, mengatakan kenaikan harga mulai terasa sejak sekitar tiga hari terakhir. Perubahan harga disebut terjadi cukup cepat sehingga pedagang harus kembali menyesuaikan harga jual kepada konsumen.
“Kenaikan sudah tiga hari ke belakang. Rawit merah dari Rp60.000 sekarang Rp100.000,” ujar Eli saat ditemui di Pasar Kosambi, Rabu (23/9/2026).
Dengan kenaikan tersebut, harga cabai rawit merah di tingkat pedagang Pasar Kosambi meningkat sekitar 66,7 persen dibandingkan harga sebelumnya.
Perubahan harga juga terjadi pada jenis cabai lainnya. Cabai keriting merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp60.000 per kilogram kini dijual sekitar Rp80.000 per kilogram.
Namun, tidak semua komoditas cabai mengalami kenaikan. Harga cabai merah besar justru bergerak turun dari sekitar Rp100.000 menjadi Rp80.000 per kilogram.
Data tersebut menunjukkan pergerakan harga cabai di pasar tidak seragam. Harga yang diterima konsumen dapat berbeda bergantung pada jenis komoditas, lokasi pasar, kondisi pasokan, hingga harga yang ditetapkan masing-masing pedagang.
Hal itu juga terlihat dari data Panel Harga Pangan yang dirujuk dari PIHPS Bank Indonesia pada 23 September 2026. Rata-rata harga cabai rawit di Bandung tercatat sekitar Rp78.450 per kilogram.
Angka tersebut merupakan rata-rata dari pasar yang masuk dalam pemantauan. Karena itu, harga Rp100.000 per kilogram di Pasar Kosambi tidak serta-merta menggambarkan harga cabai rawit merah di seluruh pasar Kota Bandung.
Lonjakan di Bandung sejalan dengan tekanan harga cabai rawit yang terjadi secara nasional. Pada pekan ketiga September 2026, rata-rata harga cabai rawit nasional mencapai Rp77.596 per kilogram atau meningkat 29,85 persen. Harga tersebut juga berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp57.000 per kilogram.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut kenaikan harga cabai rawit terjadi di banyak daerah. Pada pekan ketiga September, sebanyak 265 kabupaten/kota tercatat mengalami kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) cabai rawit.
Dari sisi pasokan, pemerintah mengaitkan kondisi tersebut dengan faktor cuaca. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan musim panas turut memengaruhi ketersediaan cabai rawit di sejumlah wilayah.
Pemerintah kemudian mendorong pengaturan distribusi dari daerah yang mengalami surplus menuju wilayah yang membutuhkan tambahan pasokan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan komoditas sekaligus menekan tekanan harga di daerah yang mengalami kekurangan.
Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian Sudi Mardianto menyebut produksi cabai rawit nasional pada pekan ketiga September masih berada di sekitar 132.926 ton.
Meski produksi masih tersedia, kondisi cuaca dan keterbatasan air menjadi tantangan bagi keberlanjutan produksi. Sekitar 79 persen produksi cabai rawit nasional berada di Pulau Jawa sehingga kelancaran distribusi dari sentra produksi menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pasokan di daerah konsumen.
Ketua Asosiasi Champion Cabai Indonesia (ACCI) Tunov Mondro Atmojo mengatakan tekanan terhadap harga di tingkat petani telah mulai terasa sejak pertengahan Agustus 2026.
Menurut Tunov, kondisi panas dan terbatasnya ketersediaan air membuat tanaman cabai tidak dapat berproduksi secara optimal. Persoalan serupa juga menjadi kendala ketika petani hendak melakukan penanaman baru.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu panjang, pasokan cabai berpotensi semakin terbatas. Dampaknya kemudian dapat terasa hingga tingkat pedagang dan konsumen melalui kenaikan harga.
Bagi pedagang, kenaikan harga dari pemasok membuat harga jual perlu disesuaikan agar tetap dapat menutup modal. Sementara bagi konsumen, cabai rawit merupakan salah satu komoditas dapur yang cukup rutin dibeli sehingga kenaikan harga berpotensi menambah pengeluaran rumah tangga.
Dengan harga cabai rawit merah di Pasar Kosambi yang telah mencapai Rp100.000 per kilogram, perkembangan pasokan menjadi perhatian menjelang akhir September 2026. Kondisi produksi, cuaca, ketersediaan air, dan distribusi dari sentra penghasil akan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga berikutnya.




