Maudy Ayunda Minta Maaf
Maudy Ayunda akhirnya merespons sorotan publik yang muncul setelah pandangannya mengenai mindfulness di tengah maraknya kabar negatif tentang Indonesia menuai kritik. Aktris sekaligus penyanyi itu mengakui bahwa penjelasannya dalam video sebelumnya belum mencakup satu hal penting, yakni tidak semua orang memiliki kesempatan untuk mengambil jarak dari pemberitaan.
Penjelasan tersebut disampaikan Maudy melalui kolom komentar pada unggahan video bertajuk Mindfulness in the Age of Bad News, Minggu (13/9/2026). Dalam responsnya, ia tidak hanya memberikan konteks mengenai maksud pembahasan, tetapi juga menyampaikan permintaan maaf atas bagian yang menurutnya belum cukup ia pikirkan secara menyeluruh.
Maudy menyadari bahwa pilihan untuk membatasi paparan terhadap berita merupakan sesuatu yang tidak bisa dirasakan semua orang. Bagi sebagian masyarakat, berbagai informasi mengenai kondisi Indonesia berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari, keluarga, pekerjaan, hingga lingkungan tempat mereka tinggal.
“Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya,” ujar Maudy.
Kesadaran tersebut membuat Maudy mengoreksi perspektif yang sebelumnya ia sampaikan. Ia mengakui ada bagian yang belum cukup ia refleksikan ketika membuat video tersebut dan memilih menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.
“Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya,” lanjutnya.
Maudy menjelaskan, pembahasan tentang mindfulness sebenarnya berangkat dari pengalaman pribadi ketika dirinya menghadapi derasnya informasi mengenai berbagai persoalan. Ia mengaku berusaha tetap mengetahui apa yang terjadi, tetapi pada saat bersamaan perlu menjaga kondisi diri agar tidak tenggelam dalam arus informasi negatif.
Menurut Maudy, persoalan yang tengah terjadi di Indonesia juga bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ia menyebut kebakaran hutan dan lahan, gempa bumi, serta kebijakan atau program yang dinilai tidak tepat sasaran sebagai sejumlah isu yang memiliki dampak nyata terhadap masyarakat.
Karena itu, Maudy menegaskan bahwa gagasan mengenai mindfulness tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk mengabaikan persoalan sosial. Ia juga membantah anggapan bahwa konsep tersebut berarti seseorang harus menjauh dari realitas atau berpura-pura bahwa keadaan sedang baik-baik saja.
“Aku sama sekali tidak ingin mindfulness menjadi alasan untuk tidak peduli atau menjauh dari realita yang ada. Apalagi ajakan untuk berdiam diri, ataupun melihat seolah keadaan baik-baik saja,” kata Maudy.
Sebaliknya, ia memandang mindfulness sebagai cara untuk mempertahankan kejernihan ketika menghadapi banyak persoalan. Dengan kondisi pikiran yang lebih terjaga, seseorang dinilai tetap dapat memahami persoalan, melihat sebab dan akibat, sekaligus mempertahankan empati kepada kelompok yang terdampak.
“Malah, mindfulness ini membuat aku bisa melihat sebab akibat secara jelas, membantu kita tetap peduli dan hadir, dan tetap peka terhadap apa yang dirasakan mereka yang terdampak,” ujarnya.
Maudy juga memilih melihat kritik yang datang sebagai bahan evaluasi. Ia mengapresiasi netizen yang memberikan sudut pandang berbeda karena masukan tersebut membuatnya menyadari adanya perspektif yang belum ia masukkan dalam pembahasan sebelumnya.
“Terima kasih untuk teman-teman yang sudah meluangkan waktunya untuk mengingatkanku dan menambahkan perspektif menjadi lebih luas dan lebih dalam. Aku dengar dan aku hargai feedback-nya. I’m listening and learning,” tutur Maudy.
Sebelumnya, kontroversi bermula dari video yang diunggah Maudy pada 21 Agustus 2026. Dalam konten tersebut, ia membahas caranya menghadapi banjir informasi mengenai berbagai kabar buruk yang muncul di Indonesia.
Maudy kala itu mengaku sempat merasa kewalahan karena terlalu banyak menerima informasi. Ia kemudian memilih mengatur kembali konsumsi berita dengan menerapkan apa yang disebutnya sebagai “diet informasi”, antara lain melalui pemilihan sumber yang kredibel, membaca informasi secara lebih mendalam, serta berdiskusi dengan pihak yang dianggap memahami persoalan.
Namun, gagasan tersebut mendapat tanggapan kritis dari sejumlah netizen. Mereka menilai persoalan seperti bencana alam, karhutla, maupun kebijakan pemerintah bukan sekadar informasi negatif yang dapat dihindari karena dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Perbedaan perspektif itu kemudian mendorong Maudy memberikan penjelasan tambahan. Ia menegaskan bahwa menjaga kesehatan mental tidak seharusnya dimaknai sebagai upaya menghindari kenyataan, melainkan sebagai cara agar seseorang tetap mampu menghadapi berbagai persoalan dengan kesadaran dan kepedulian.
Melalui klarifikasi tersebut, Maudy memilih memperluas kembali makna mindfulness yang sebelumnya ia sampaikan. Baginya, menjaga kesehatan mental dan tetap peka terhadap persoalan sosial dapat berjalan bersamaan, selama seseorang tidak menggunakan keduanya sebagai alasan untuk mengabaikan realitas di sekitarnya.



