Direktur BTN Bekali Wisudawan UGM Hadapi Dunia Kerja
Direktur Human Capital and Compliance PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Eko Waluyo, membagikan sejumlah bekal kepada 1.061 calon wisudawan program pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam kegiatan pembekalan dan gladi bersih wisuda periode IV Tahun Akademik 2025/2026 di Grha Sabha Pramana UGM, Selasa (21/7).
Di hadapan para peserta, Eko menjelaskan bahwa dunia kerja memiliki karakter yang berbeda dengan kehidupan di bangku kuliah.Â
Menurutnya, keberhasilan di lingkungan profesional kini tidak lagi hanya diukur dari pencapaian individu, melainkan dari kemampuan membangun kolaborasi dan memberikan dampak positif bagi organisasi.
“Yang dibutuhkan adalah kemampuan menciptakan impact, membangun kerja sama tim, dan berkolaborasi. Fokusnya bukan lagi pada diri sendiri, tetapi pada keberhasilan tim,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya setiap pekerja terus meningkatkan kapasitas diri dan memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Karena itu, proses belajar tidak boleh berhenti setelah lulus dari perguruan tinggi.
“Perubahan yang berlangsung sangat cepat menuntut setiap orang untuk terus belajar sepanjang hayat,” katanya.
Eko mencontohkan transformasi yang terjadi di industri perbankan. Jika dahulu hampir seluruh layanan dilakukan secara tatap muka melalui kantor cabang, kini sekitar 70 hingga 80 persen transaksi telah beralih ke layanan digital melalui aplikasi mobile banking.
Perubahan tersebut, lanjutnya, berdampak pada kebutuhan sumber daya manusia. Di BTN, sekitar 3.000 pegawai terdampak perubahan pola layanan sehingga perusahaan secara rutin merelokasi sekitar 400 karyawan setiap tahun ke fungsi pekerjaan yang berbeda.
Ia juga mengutip hasil studi CB Insight mengenai perusahaan yang tergabung dalam indeks S&P 500. Menurutnya, usia perusahaan saat ini semakin singkat dibandingkan beberapa dekade lalu karena banyak organisasi gagal beradaptasi dengan perubahan teknologi maupun perkembangan sumber daya manusia.
Merujuk pada data World Economic Forum, Eko mengatakan keterampilan yang dibutuhkan di masa depan didominasi kompetensi di bidang teknologi. Karena itu, lulusan dari berbagai disiplin ilmu tetap dituntut memahami perkembangan digital agar mampu bersaing.
Ia mengibaratkan perjalanan karier sebagai lari maraton yang membutuhkan daya tahan, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi. Menurutnya, seiring perubahan zaman, sebagian keterampilan yang dimiliki saat ini akan tergantikan sehingga peningkatan kompetensi harus dilakukan sejak dini.
“Pada 2030 nanti, kemungkinan sepertiga kemampuan yang kita miliki sudah tidak lagi relevan. Karena itu, kita harus mulai membekali diri dengan keterampilan dan kompetensi baru dari sekarang,” tegasnya.
Dalam paparannya, Eko menyebut empat faktor utama yang menentukan keberhasilan seseorang di dunia kerja, yakni kompetensi, karakter, konsistensi, dan kontribusi. Keempat unsur tersebut saling melengkapi sehingga tidak bisa dipisahkan.
“Kalau salah satu dari empat faktor itu bernilai nol, maka hasil akhirnya juga akan menjadi nol,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Rektor UGM Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., mengatakan pembekalan tersebut menjadi bagian dari persiapan mahasiswa sebelum memasuki dunia profesional.
Menurut Arie, perguruan tinggi harus mampu menjalin hubungan yang kuat dengan alumni agar tetap relevan di tengah pesatnya transformasi digital. Selain mencetak lulusan berkualitas, universitas juga memiliki tanggung jawab membangun jejaring yang dapat membuka akses kerja bagi alumninya.
“Kampus tidak hanya melahirkan sarjana, magister, maupun doktor, tetapi juga harus mampu menjadi jembatan yang menghubungkan alumni dengan dunia kerja sesuai harapan mereka,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengcab Kagama Gunungkidul, Ir. Eddy Praptono, M.Si., mengajak para calon wisudawan untuk aktif dalam keluarga besar Kagama.Â
Menurutnya, organisasi alumni tersebut menjadi ruang untuk memperluas jejaring, belajar berkolaborasi, serta terus mengembangkan diri.
Ia juga berpesan agar lulusan UGM senantiasa menjaga nama baik almamater melalui prestasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat, meski di tengah berbagai perbedaan pandangan maupun kepentingan. (H. Husaini)






