Mengapa Orang Jawa Jarang Makan Ikan? Ini Penjelasan Guru Besar UGM

Ilustrasi makanan olahan ikan. (Pixabay).

Kebiasaan makan yang terbentuk sejak usia dini dinilai menjadi salah satu penyebab rendahnya konsumsi ikan di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Masyarakat di wilayah ini disebut lebih terbiasa mengonsumsi ayam, tahu, dan tempe sebagai sumber protein dibandingkan ikan.

Guru Besar Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Ir. Alim Isnansetyo, M.Sc., mengatakan pola konsumsi tersebut berbeda dengan masyarakat di kawasan Indonesia Timur yang sejak kecil telah terbiasa menjadikan ikan sebagai lauk utama.

Menurut Alim, perbedaan kebiasaan tersebut berdampak pada tingkat konsumsi ikan. Di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sebagian besar wilayah Jawa, konsumsi ikan masih lebih rendah dibandingkan kawasan pesisir maupun Indonesia Timur yang rata-rata mencapai 77 hingga 82 kilogram per kapita per tahun.

“Kondisi ini sebenarnya merupakan kebiasaan yang terbentuk sejak kecil. Karena itu perlu ada pembelajaran dan pembiasaan bagi generasi muda untuk mengonsumsi ikan,” ujar Alim, Senin (29/6).

Ia menjelaskan, selain dipengaruhi budaya makan, rendahnya konsumsi ikan juga disebabkan masih minimnya pengetahuan masyarakat mengenai manfaat gizi ikan. Padahal, ikan merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mengandung asam amino esensial dan nonesensial yang dibutuhkan tubuh.

Tak hanya itu, ikan juga kaya akan asam lemak tak jenuh, termasuk omega-3, yang bermanfaat menjaga kesehatan jantung, melancarkan sistem peredaran darah, serta mendukung perkembangan otak tanpa meningkatkan kadar kolesterol.

Menurut Alim, rendahnya minat masyarakat mengonsumsi ikan juga dipengaruhi belum banyaknya produk olahan ikan yang praktis dan siap santap. Kondisi tersebut membuat sebagian masyarakat lebih memilih sumber protein lain yang dianggap lebih mudah diolah.

Di sisi lain, persoalan distribusi masih menjadi tantangan besar. Sebagian besar produksi perikanan berasal dari Indonesia Timur, sementara konsentrasi penduduk terbesar berada di Pulau Jawa. Akibatnya, distribusi ikan membutuhkan biaya tinggi, waktu lebih lama, serta sistem rantai dingin yang belum tersedia secara merata.

Alim menambahkan, rendahnya konsumsi ikan turut berdampak pada sektor perikanan. Ketika produksi ikan melimpah tetapi daya serap pasar rendah, harga ikan cenderung turun sehingga berpotensi merugikan nelayan maupun pelaku usaha perikanan.

Selain persoalan konsumsi, Indonesia juga masih menghadapi ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya laut, seperti degradasi ekosistem dan praktik penangkapan ikan berlebihan (overfishing). Karena itu, Alim mendorong pemerintah memperkuat edukasi gemar makan ikan sejak usia dini, mengembangkan industri olahan ikan, memperbaiki sistem distribusi, serta memperketat penegakan hukum terhadap pelanggaran di kawasan konservasi laut agar sumber daya perikanan tetap terjaga.

Tutup