Pengamat Sebut Ekonomi Indonesia Sudah Rapuh
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp17 ribu per dolar Amerika Serikat memunculkan beragam respons dari pelaku pasar dan pengamat ekonomi. Namun, ekonom Dipo Satria Ramli menilai kondisi tersebut tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto saat ini.
Menurut Dipo, pelemahan rupiah merupakan akumulasi persoalan ekonomi yang telah terbentuk sejak beberapa tahun terakhir dan kini menjadi beban yang harus dihadapi pemerintah baru. Ia menilai kondisi fundamental ekonomi nasional memang sudah rapuh sebelum tekanan global kembali meningkat.
“Ini bukan murni kesalahan pemerintah saat ini, tapi memang ada dosa-dosa pemerintahan sebelumnya,” ujar Dipo dalam wawancara di kanal YouTube milik Abraham Samad, Minggu (24/5/2026).
Ia menjelaskan, pemerintahan saat ini tengah menjalankan strategi ekspansi fiskal melalui peningkatan belanja negara guna menjaga pertumbuhan ekonomi tetap bergerak. Langkah tersebut dilakukan di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian pasar internasional.
“Pemerintah sekarang memang agresif, belanja pemerintah jor-joran. Strateginya ingin menggenjot pengeluaran supaya ekonomi tumbuh,” katanya.
Dipo menilai kebijakan belanja besar-besaran memang dapat mendorong konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik. Namun di sisi lain, strategi itu membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit sehingga memperbesar tekanan terhadap fiskal negara.
Ia juga menyoroti kondisi defisit anggaran yang dinilai mulai terasa dampaknya terhadap persepsi pasar. Ketika beban fiskal meningkat sementara kondisi global belum stabil, tekanan terhadap rupiah menjadi semakin besar.
Selain faktor domestik, Dipo menyebut gejolak geopolitik dunia turut memperburuk situasi. Konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Iran, disebut ikut memicu kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat dolar AS.
“Rupiah melemah bukan hanya karena geopolitik, tapi memang sebelumnya ekonomi kita kurang baik. Istilahnya ditiup saja goyang,” ujarnya.
Menurutnya, tekanan terhadap rupiah juga terjadi karena investor global cenderung menarik dana dari negara berkembang dan kembali menempatkan aset mereka di Amerika Serikat yang dianggap lebih aman di tengah ketidakpastian global.
Dipo menambahkan, pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang negara tetangga seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, hingga baht Thailand. Hal itu menunjukkan adanya persoalan struktural dalam ekonomi nasional yang perlu segera dibenahi.
Ia pun mendorong pemerintah untuk memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang melalui penguatan sektor produksi, perbaikan iklim investasi, serta pengelolaan fiskal yang lebih sehat agar ketahanan rupiah tidak terus rentan terhadap tekanan eksternal.




