Viral Robot Kehamilan China, Fakta atau Hoaks?
Kabar mengenai pengembangan “robot gestasi” atau robot kehamilan humanoid di China belakangan ramai beredar dan memicu perdebatan global. Teknologi tersebut disebut mampu mengandung janin manusia melalui rahim buatan hingga proses persalinan, lengkap dengan sistem penyaluran nutrisi otomatis layaknya kehamilan alami.
Narasi itu menyebut proyek dikembangkan oleh perusahaan bernama Kaiwa Technology di Guangzhou, China, dengan sosok ilmuwan bernama Zhang Qifeng sebagai pemimpinnya. Bahkan, prototipe robot tersebut diklaim siap diperkenalkan ke publik pada 2026 dengan biaya pengembangan mencapai 100.000 yuan atau sekitar Rp226 juta.
“Sekarang teknologi ini perlu ditanamkan ke dalam perut robot sehingga manusia sungguhan bisa berinteraksi dengan robot untuk mencapai kehamilan, memungkinkan janin tumbuh di dalamnya,” demikian pernyataan yang dikaitkan dengan Zhang Qifeng dalam sejumlah laporan media internasional.
Namun di balik viralnya kabar tersebut, berbagai pihak mulai mempertanyakan validitas informasi yang beredar. Sejumlah media asing seperti Newsweek, The Telegraph, hingga New York Post sempat memberitakan proyek robot kehamilan tersebut tanpa verifikasi mendalam mengenai keberadaan perusahaan maupun sosok ilmuwan yang disebut terlibat.
Laporan investigatif dari Snopes kemudian menemukan banyak kejanggalan dalam cerita tersebut. Informasi awal disebut berasal dari situs teknologi China bernama Kuai Ke Zhi, namun situs tersebut nyaris tidak memiliki jejak digital yang jelas.
Tak hanya itu, sosok Zhang Qifeng yang diklaim sebagai ilmuwan sekaligus alumnus Nanyang Technological University (NTU) Singapura juga dipertanyakan. Pihak NTU disebut tidak menemukan data kelulusan doktoral atas nama Zhang Qifeng maupun penelitian terkait “robot kehamilan” di kampus tersebut.
Foto yang beredar dan disebut menampilkan Zhang juga memunculkan tanda tanya. Dalam hasil penelusuran, teks Mandarin pada gambar justru mengarah pada nama perusahaan teknologi elektronik lain di Shenzhen, bukan perusahaan robotik yang disebut mengembangkan rahim buatan.
Di tengah simpang siur tersebut, para ahli menegaskan bahwa teknologi rahim buatan manusia hingga saat ini belum mencapai tahap yang memungkinkan janin berkembang penuh sampai kelahiran, apalagi dipasang pada robot humanoid. Penelitian ectogenesis atau pengembangan janin di rahim buatan memang terus dilakukan di sejumlah negara, tetapi masih berada pada tahap eksperimen terbatas.
Meski begitu, isu ini tetap memantik diskusi luas terkait masa depan teknologi reproduksi manusia. Banyak pihak menyoroti persoalan etika, mulai dari hubungan emosional ibu dan anak, sumber sel reproduksi, hingga dampak psikologis terhadap bayi yang lahir melalui sistem buatan.
Perdebatan juga berkembang terkait kemungkinan teknologi semacam ini digunakan sebagai solusi penurunan angka kelahiran di sejumlah negara, termasuk China yang beberapa tahun terakhir menghadapi krisis demografi dan penurunan populasi usia produktif.
Di sisi lain, maraknya penyebaran informasi yang belum terverifikasi dinilai menjadi pengingat penting bagi publik untuk lebih kritis terhadap kabar teknologi futuristik yang viral di media sosial maupun portal daring. Hingga kini, belum ada bukti ilmiah resmi yang menunjukkan proyek “robot kehamilan” tersebut benar-benar eksis dan siap diperkenalkan ke publik pada 2026.




