Netanyahu: Gencatan Senjata AS–Iran Tak Berlaku untuk Hizbullah
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran tidak mencakup konflik dengan Hizbullah di Lebanon. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi militer di kawasan.
Netanyahu mengaku terkejut dengan kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara AS dan Iran. Meski demikian, ia menyebut bahwa Washington telah berkoordinasi dengan pihak Israel sebelum pengumuman dilakukan.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui akun media sosial resminya, Netanyahu menegaskan bahwa kesepakatan tersebut bersifat terbatas dan tidak mempengaruhi operasi militer Israel terhadap Hizbullah.
“Gencatan senjata ini tidak berlaku terhadap Hizbullah di Lebanon,” tegasnya.
Seiring pernyataan tersebut, militer Israel dilaporkan kembali melancarkan serangan udara besar-besaran ke wilayah Lebanon. Target serangan meliputi kawasan Dahiyeh di selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah.
Militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 titik dalam kurun waktu sekitar 10 menit. Serangan tersebut menyasar sejumlah lokasi strategis di Beirut, Lembah Beqaa, hingga wilayah Lebanon selatan.
Eskalasi ini menandai bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah belum mereda, meskipun terdapat upaya diplomatik antara AS dan Iran. Konflik yang melibatkan aktor non-negara seperti Hizbullah dinilai tetap menjadi faktor utama yang menjaga suhu geopolitik tetap tinggi.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik regional, terutama jika intensitas serangan terus meningkat dalam beberapa waktu ke depan.



