Prabowo Buka Investasi AS, Tegaskan Harus Ikuti Kepentingan Nasional
Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemerintah tetap membuka peluang kerja sama investasi dengan Amerika Serikat, namun dengan syarat utama: seluruh aktivitas harus selaras dengan kepentingan nasional.
Pernyataan ini disampaikan di tengah pembahasan terkait potensi kesepakatan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat. Prabowo menekankan bahwa setiap investasi yang masuk tidak boleh keluar dari koridor regulasi, khususnya dalam pengelolaan sumber daya alam strategis.
Menurutnya, keterbukaan terhadap investor asing bukan berarti mengorbankan kedaulatan ekonomi. Pemerintah memastikan seluruh kerja sama tetap berada dalam kendali kebijakan nasional.
“Untuk sektor mineral kritis, saya tegaskan kita terbuka. Tapi semuanya harus mengikuti harga pasar internasional, harga ekonomi yang wajar,” ujar Prabowo.
Ia menjelaskan, prinsip tersebut menjadi dasar agar Indonesia tetap memperoleh nilai maksimal dari sumber daya yang dimiliki, tanpa merugikan kepentingan negara.
Prabowo juga mengingatkan bahwa keterlibatan pihak asing dalam sektor pertambangan bukan hal baru. Ia mencontohkan kerja sama jangka panjang dengan Freeport Indonesia yang dinilai telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan negara.
“Kalau mereka mau mengikuti aturan kita, silakan. Seperti Freeport, sudah puluhan tahun beroperasi dan menjadi salah satu penyumbang pendapatan terbesar kita,” jelasnya.
Meski demikian, Presiden menegaskan bahwa arah kebijakan ke depan tidak lagi sekadar mengekspor bahan mentah. Pemerintah berkomitmen memperkuat hilirisasi agar nilai tambah ekonomi dapat dinikmati di dalam negeri.
Ia menekankan bahwa seluruh aktivitas pertambangan wajib disertai proses pengolahan di Indonesia, bukan hanya eksploitasi sumber daya.
“Bahan mentah harus diproses di dalam negeri. Kalau mereka ingin menambang, ya harus sekaligus membangun fasilitas pengolahan di sini,” tegas Prabowo.
Lebih lanjut, ia menyebut mineral kritis sebagai komoditas strategis yang memiliki nilai tinggi dalam rantai ekonomi global, sehingga pengelolaannya harus dilakukan secara cermat dan berorientasi jangka panjang.
“Mineral kritis itu komoditas penting. Selama mereka bayar sesuai harga pasar internasional, siapa pun yang mengelola, kita tetap mendapatkan nilai ekonominya,” ujarnya.



