Antrean Bank Kosong, Penjual Uang Baru di Medsos Justru “Gacor”
Menjelang Hari Raya Idulfitri, tradisi membagikan uang baru kepada sanak saudara kembali menjadi momen yang paling dinanti masyarakat. Namun pada tahun ini, banyak warga justru dihadapkan pada kenyataan pahit ketika berburu uang pecahan baru di bank.
Sejumlah warga mengaku harus pulang dengan tangan kosong setelah mendatangi berbagai kantor cabang bank. Antrean panjang tak jarang berakhir dengan jawaban yang sama dari petugas, yakni stok uang baru telah habis atau kuota penukaran telah terpenuhi.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi tersebut terjadi di sejumlah bank konvensional. Banyak warga yang telah mengantre sejak pagi hari, namun tetap tidak mendapatkan kesempatan untuk menukar uang pecahan baru yang biasanya dibagikan menjelang Lebaran.
Situasi ini berbanding terbalik dengan yang terjadi di media sosial. Di platform seperti Facebook dan Instagram, penjual uang baru justru bermunculan dengan berbagai penawaran.
Mereka menawarkan berbagai pecahan uang mulai dari Rp2.000, Rp5.000 hingga Rp10.000 dengan sistem “beli uang pakai uang”. Artinya, pembeli harus membayar nilai lebih tinggi dari nominal uang yang didapatkan.
Untuk satu pak uang pecahan tertentu, pembeli biasanya dikenakan biaya tambahan atau fee berkisar antara 10 hingga 20 persen dari nilai asli uang tersebut. Praktik ini membuat harga uang baru menjadi jauh lebih mahal dibandingkan nilai nominalnya.
Fenomena tersebut memicu reaksi keras dari warganet. Banyak yang mempertanyakan mengapa stok uang baru sulit didapatkan di bank, tetapi justru tersedia melimpah di tangan para penjual di media sosial.
Sejumlah pengguna media sosial bahkan membandingkan kondisi ini dengan kelangkaan komoditas lain di masa lalu. “Regulator bilang kosong, tapi di tangan oknum stoknya melimpah. Ini masalah distribusi atau memang ada kebocoran?” tulis salah satu warganet dalam unggahan yang viral.
Sorotan pun diarahkan kepada Bank Indonesia sebagai otoritas yang mengatur peredaran uang kartal di Indonesia. Masyarakat menilai sistem penukaran uang melalui aplikasi PINTAR yang diluncurkan BI seharusnya mampu meminimalisir praktik percaloan.
Namun dalam praktiknya, “pasar gelap” uang baru masih terus bermunculan dan bahkan semakin terang-terangan menawarkan jasa penukaran dengan tarif tambahan.
Selain harga yang dinilai tidak masuk akal, transaksi uang baru melalui media sosial juga menyimpan berbagai risiko. Mulai dari kemungkinan menerima uang palsu hingga potensi penipuan, seperti modus meminta transfer terlebih dahulu namun barang tidak pernah dikirim.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap adanya langkah tegas dari pihak berwenang untuk menertibkan praktik penjualan uang baru secara ilegal yang dinilai memanfaatkan kebutuhan warga menjelang perayaan Lebaran.




